Kamis, 24 Januari 2013

Livya Mudita Dewi

Misteri Pembunuhan Livya di Kamar Mandi
PERGINYA CUCU KESAYANGAN KELUARGA
Seorang bocah perempuan berusia 5 tahun ditemukan sudah menjadi mayat di sebuah rumah kontrakan. Ia diduga dibunuh oleh orang yang mengontrak rumah itu. Sayang, pelakunya belum tertangkap.
KLIK - Detail Suasana duka menyelimuti sebuah rumah di Kompleks Bumi Nasio, Jatimekar, Jatiasih, Bekasi. Sabtu siang (26/8/2006) itu, penghuni rumah sedang mengadakan kebaktian untuk mendoakan arwah Livya Mudita Dewi br Fuk Loji Wiratnakusumah alias Livya (5). Orang tua mendiang Livya, pasangan Then Fuk Loji (38) dan Li Bing (37), tenggelam dalam duka.

Tidak hanya pasangan ini yang berduka, para tamu yang datang juga menunjukkan wajah muram. Teman dan guru Livya di TK Tadika Puri Jatimekar yang datang hari sebelumnya juga merasa kehilangan. Mereka memang amat bersedih karena Livya meninggal setelah diculik dan dibunuh.

"Ya semua orang-orang turut prihatin dengan kepergian Livya. Selain kami, semua kerabat, tetangga, dan guru-guru juga merasa kehilangan. Teman-teman Livya tak kalah sedih," papar Li Bing dengan air mata tertahan.

INGIN FOTO BOKS
Li Bing mengisahkan, Kamis (17/8/2006) lalu, anak bungsunya itu pulang dari sekolah. "Dia, kan, sudah masih TK. Untuk kenang-kenangan perpisahan kelak tahun depan, dia ingin foto bareng teman-temannya. Rencananya, sih, mereka ingin foto boks di salah satu studio dekat rumah," kata Li Bing dengan wajah sedih.

Keinginan itu sudah lama disampaikan Livya. Sang ayah sebenarnya juga bersedia mengantar buah hatinya. "Karena papinya masih sibuk, dia inisiatif pergi bersama teman-temannya. Livya itu anaknya memang enggak mau nyusahin orang tua. Nah, hari itu setiba di rumah, Livya bergegas-gegas hendak pergi. Saya sempat cegah dia karena belum makan siang," lanjutnya.

Namun, Livya mengatakan sudah ditunggu teman-temannya. Ia hanya minum air segelas. Li Bing pun mengizinkan, apalagi jarak tempat foto boks di Alfa Gudang Rabat Jatikramat itu tak begitu jauh dari rumahnya. "Dia pergi bersama dua temannya."

Namun, hingga sore hari Livya yang berpostur mungil itu belum juga sampai rumah. Paniklah Li Bing. Segera saja ia menelepon Della, teman Livya yang berangkat bersama. "Della bilang, Livya sudah pulang naik angkutan umum," lanjutnya.

Tentu saja Li Bing semakin gundah. Ia dan keluarga besar Wiratnakusumah segera mencari Livya ke mana-mana. "Setiap rumah tetangga kami masuki, jangan-jangan dia bermain di situ. Bahkan, sekeliling kompleks ini sudah kami aduk-aduk, sampai ke semak-semak. Ternyata hasilnya nihil."

KLIK - Detail Tak terasa malam sudah menjelang. Karena sudah lelah mencari seharian, Li Bing sempat terduduk di depan rumahnya. "Saat itu hujan gerimis. Perasaan saya sudah enggak enak. Meski hujan semakin deras, saya terus berusaha mencari lagi ke sekeliling kompleks. Gelap dan hujan lebat tak saya teh hiraukan. Saya teh senterin tiap sudut, ternyata masih juga tak ada. Seperti gila rasanya mencari Livya," ujar Li Bing yang tak putus-putusnya berdoa dengan logat Sunda.

SIANG MALAM TERUS MENCARI
Mulailah Li Bing dan keluarganya minta bantuan orang pintar. "Kami bukannya tak percaya dengan doa-doa yang kami panjatkan pada Tuhan. Bisa saja dengan izin Tuhan melalui perantaraan orang pintar, anak kami bisa ditemukan," papar Li Bing.

Beberapa orang pintar mereka datangi. Ada yang bilang, Livya berada di suatu tempat di Cibubur dalam keadaan baik. Ada juga yang mengatakan, anak yang bercita-cita jadi dokter itu di Bekasi atau Depok.

"Siang malam tak henti-hentinya kami sekeluarga berpencar mencari. Keesokan harinya pencarian terus dilanjutkan. Dalam hati saya bilang pada Livya, 'Mami pasti jemput kamu.' Pokoknya sebelum ketemu, kami tak capek mencari. Entah kenapa, badan ini enggak terasa capek. Bukan hanya hati, tubuh kami pun diberi kekuatan oleh-Nya," papar Li Bing sambil sesekali mengusap pipinya yang basah.

Sampai pada hari kelima, Senin (21/8/2006) sore, Li Bing mendengar kabar bahwa Livya ditemukan sudah jadi mayat di rumah kontrakan Jln. Damai, Jatikramat, Jatiasih, Bekasi, sekitar 2 km dari rumah Wiratnakusumah. Dugaan kuat, di rumah itulah sang penculik membunuh Livya.

Berita itu membuat Li Bing sangat terpukul. Ia juga sempat ke lokasi itu. Kondisi Livya saat itu memukul batinnya. Begitu syoknya, ia tak sanggup lagi mengisahkan keadaan buah hatinya. "Saya enggak bisa menceritakannya. Cukup pedih untuk mengingatnya," lanjutnya. Bahkan, saat jasad Livya sampai di rumah dalam keadaan sudah dimasukkan peti, Li Bing tidak sanggup melihatnya. "Pokoknya kami berharap teh, polisi terus mencari pelaku atuh," harapnya. 


DITEMUKAN DI KAMAR MANDI
Li Bing tak sanggup lagi meneruskan ceritanya. Ia minta Lilis Lusiana, kakak Li Bing, untuk meneruskan obrolan. Irma menceritakan, berbagai cara telah dilakukan untuk mencari Livya.

Selain lapor polisi, mereka juga menyebarkan brosur yang memuat foto Livya yang isinya mencari anak hilang.

Saat bingung mencari, Senin (21/8/2006) sore itu, keluarganya menerima telepon dari anggota polisi Polsek Jatiasih. Mereka bilang telah menemukan mayat seorang anak perempuan berusia 5 tahun. Petugas juga minta kami segera ke kantor polisi."
KLIK - Detail
Hari itu juga, Lilis dan kerabatnya diajak ke rumah, tempat ditemukannya Livya. Waktu pertama melihat Livya tergeletak di kamar mandi, "Kami enggak begitu yakin bahwa jenazah itu teh adalah Livya. Habis badannya seperti perempuan usia 7 tahun. Mungkin karena Livya sudah beberapa hari meninggal hingga tubuhnya membengkak," ungkap Lilis.

Setelah mengetahui ada ciri khas Livya yakni ada tahi lalat di bawah mata kanan dan jepitan rambut yang dipakainya terakhir kali, barulah Lilis yakin jasad itu benar Livya. Yang menyakitkan Lilis dan keluarganya, jasad Livya ditemukan dalam keadaan memakai busana daster. Tubuhnya ditutupi seprai.

"Melihat kondisi Livya, Li Bing teh langsung pingsan. Dia benar-benar syok dan trauma. Maklum ya, anak bungsunya dibunuh secara biadab," katanya seraya mengatakan jasad Livya dimakamkan di TPU Kristen Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Hingga sekarang, Lilis dan keluarganya tidak tahu apa motif sang pembunuh. "Setelah kami koreksi diri, orang tua Livya teh selama ini enggak ada musuh, kok. Papi Livya teh, kan, orangnya pendiam. Lantas kenapa hal ini mesti terjadi?" kata ibu tiga anak dengan nada tanya dengan logat sunda.

CUCU KESAYANGAN KELUARGA

Lilis mengatakan, keluarga besarnya memang sangat berduka. Apalagi, Livya adalah cucu kelima bagi Wiratnakusumah. "Dia betul-betul kesayangan keluarga besar kami teh. Sehari-hari Livya suka bermain dengan kakaknya, sepupunya serta teman sekolahnya atuh," kenang Lilis.

Tiap Sabtu, lanjut Lilis, biasanya Livya, kakaknya dan sepupunya kumpul di rumah oma dan opanya. "Kebetulan rumah Livya, kan, dekat dengan rumah oma dan opanya. Sesudah berkumpul di sini, acara dilanjutkan renang. Hingga keesokan harinya, Livya seharian main di rumah oma dan opanya. Karena Livya anak paling kecil, dialah yang suka mengatur kakak-kakaknya ini."
Lilis juga ingat betul, dua hari sebelum Livya hilang, keluarganya berkumpul di rumah keluarga Wiratnakusumah. "Kami merayakan ulang tahun Livya. Waktu itu, kakak-kakaknya memberikan kado. Ada yang membelikan dompet, ada yang memberi hadiah penjepit rambut. Wah, kalau ingat kejadian itu, kami jadi sering nangis," kata Lilis seraya mengatakan Livya termasuk anak pintar. "Dia ranking dua di kelasnya."

Menurut Lilis, agar lebih tenang dan jangan banyak pikiran, sekarang ini Fuk Loji dan Li Bing tinggal bersama orang tuanya. "Biarlah untuk sementara Kang Fuk Loji dan Li Bing tinggal di rumah abah dulu. Habis, mereka belum kuat tidur di kamarnya. Sebab, di kamar itu Livya tidur bersama orang tuanya. Livya memang masih manja pada mereka."

JARANG BERGAUL DENGAN TETANGGA
Ternyata, Livya ditemukan di sebuah rumah kontrakan. Sebelumnya, rumah itu didiami Budi Han, seorang laki-laki berusia 41 tahun. Belum genap sebulan Budi mengontrak rumah milik Suherman itu. Hingga sekarang Budi kabur. Dia diduga terlibat dalam pembunuhan Livya. "Sehari-hari Budi jarang bergaul dengan tetangga. Dia dikenal cukup pendiam," ujar Iskandar, yang tinggal di sebelah rumah itu.

Pemilik rumah kontrakan, Suherman, juga tak begitu kenal Budi. Ia mengaku mempercayakan pengelolaan rumah kontrakan itu pada Ujang, pegawainya yang kerja di toko beras miliknya. "Nah, saya dikabari Ujang, Sabtu (19/8/2006), dari rumah kontrakan itu tercium bau tak sedap. Hingga keesokan harinya, baunya tak hilang," kata Suherman. 


Baru Senin (21/8/2006), Suherman minta Yaya mencari sumber bau. "Karena kunci rumah dibawa Budi, untuk melihat keadaan dalam rumah Yaya mengintip dari atas loteng. Ternyata ada mayat perempuan tergeletak di kamar mandi.

Diakui Suherman, ia hanya sekali bertemu Budi saat membayar uang kontrakan. Waktu itu, Suherman sebenarnya minta KTP Budi. "Dia bilang KTP-nya ketinggalan di kampung. Dia janji akan menyerahkan pada saya dua minggu lagi. Ternyata sekarang dia kabur," ujarnya. 

Sumber: Tabloid Nova, Periode 28 Agustus-3 September 2006

Pembunuh Livya Ditangkap
SAAT POLISI KERJA, KELUARGA BANYAK BERDOA
Setelah 40 hari buron, sopir tembak yang memerkosa dan membunuh Livya berhasil diringkus polisi. Ternyata, ia mengaku melakukan perbuatan sama enam bulan silam. Ia diduga mengidap phedopilia.
Di tengah duka yang belum hilang, kelegaan tampak terlihat di rumah keluarga besar Petrus Wiratnakusumah di Kompleks Bumi Nasio, Jatimekar, Jatiasih, Bekasi. Selama ini keluarga Petrus menunggu, kapan pelaku pemerkosaan dan pembunuh cucu Petrus, Livya Mudita Dewi Wiratnakusumah (5), tertangkap (NOVA 888, 28 Agustus-3 September 2006).

Namun, penantian itu sudah berakhir. Selasa (26/9/2006) lalu, polisi mengabarkan kepada keluarga ini bahwa pelakunya sudah tertangkap. Pelakunya ternyata bernama Budi Han, orang yang memang sudah dicurigai polisi. "Sekarang perasaan saya sudah ringan," ujar ibu Livya, Li Bing (37).

Saat ditemui di rumah mertuanya, Kamis (28/9/2006), Li Bing yang didampingi sang suami, Then Fuk Loji (38), menunjukkan kelegaannya. "Sehari setelah pelaku ditangkap, saya dan keluarga besar, ke kantor polisi untuk melihat wajah pelaku. Tapi polisi belum mengizinkan karena waktunya belum tepat."

Sebelumnya, lanjut Li Bing, keluarganya terus memanjatkan doa agar pelaku segera tertangkap. "Bahkan, siapa saja yang kami temui, baik kerabat atau teman-teman, kami selalu titip doa pada mereka. Pastor memang selalu menasihati dan mengingatkan agar saya banyak berdoa," kata Li Bing yang mengaku masih tinggal di rumah mertua untuk menghilangkan bayangan Livya.

RENCANA GANTI NISAN
Setelah pelaku ditangkap apa keluarga Wiratnakusumah mau memaafkan perbuatannya? "Itu enggak mungkin. Siapa, sih, yang terima anaknya diperlakukan sadis seperti itu. Apalagi, saat melihat di TV, wajah pelaku tampak ceria. Dia menceritakan perbuatannya sambil tertawa-tawa, seolah enggak berdosa dan tanpa beban. Dia pantas dijuluki pembunuh berdarah dingin."

Li Bing tambah kesal ketika pelaku mengatakan apa yang dilakukan hanya masalah kecil. Melihat sikap Budi, "Apa pantas sebagai ibu korban saya memaafkan perbuatannya. Lain cerita bila dia sadar dan menyesali perbuatannya," tutur Li Bing.

Apa hukuman yang pantas untuk tersangka? Li Bing menyerahkannya pada aparat hukum. "Tapi, kalau dia punya kelainan seks dan sesadis itu, rasanya enggak wajar dia dihukum ringan. Soalnya kalau bebas, dia akan mencari korban lain. Artinya, dia akan membahayakan anak-anak."

Sebagai ungkapan syukur setelah pelaku diringkus polisi, keluarga Wiratnakusumah akan mengadakan doa bersama. "Rencana lain, kami akan mengganti nisan Livya dengan marmer. Di nisan itu, kami buat foto Livya lengkap dengan beberapa ayat dan dibuat gambar malaikat. Selama ini, hampir tiap hari kami sekeluarga ke makam Livya di Pondok Kelapa," paparnya.

Li Bing berharap, jangan ada lagi korban seperti Livya. Ia pun mengimbau kepada para orang tua agar hati-hati menjaga anak. "Selama ini, Livya tak pernah sekali pun lepas dari lindungan kami. Sekali dia pergi sendiri, terjadi peristiwa naas ini. Makanya para orang tua mesti hati-hati," harap Li Bing.
 

Kini, Li Bing sudah mengikhlaskan kepergian putri bungsunya itu. "Saya rasa, dia sudah tenang di sana. Ia juga sudah disambut malaikat," ujar Li Bing yang masih mempunyai dua anak. "Rasanya tak akan pernah ada yang bisa mengganti Livya, dan saya masih punyai anak sulung yang berusia 9 tahun."

TANPA PERLAWANAN

Tertangkapnya pelaku tak lepas dari kerja keras polisi. Kepada NOVA, Kapolres Metro Bekasi Kombes Drs Edward Syah Pernong, S.H. melalui Kanit VI Iptu Mugiyono, S.H. mengaku sudah mengintai keberadaan Budi yang dicurigai, sejak menghilang Kamis (17/8/2006) lalu. "Kami melacak dari teman-teman dekat tersangka di mana dia pernah berkali-kali pindah kontrakan di sekitar kawasan Jatiasih, Jatibening, dan Bekasi Selatan," kata Mugiyono.

Polisi juga berhasil menemukan rumah orang tua Budi di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Petugas pun sempat mengontrak rumah di dekat rumah Budi. Polisi terus mengawasi rumah Budi. "Kami pun berhasil menangkap dia tanpa perlawanan."

Lewat pemeriksaan intensif, polisi mendapat pengakuan tak terduga dari Budi. Ternyata, Budi pernah memerkosa korban lain bernama Risnasari (10) yang akrab dipanggil Ima, enam bulan silam. "Setelah memerkosa, dia membenturkan kepala Ima ke tembok sampai tak
berdaya," jelas Mugiyono.

Menurut pengakuan Budi, ia kenal dekat dengan ibu Ima. Itu sebabnya, ia leluasa bermain di rumah Ima. Saat rumah sepi dan hanya ada Ima, Budi leluasa memerkosa korbannya. "Budi memang mengaku hanya dua kali melakukan perbuatannya. Namun, kami menduga masih ada korban lain yang dicabuli, walau tak sampai dibunuh."

Budi juga mengaku, selama ini gairahnya muncul bila melihat anak-anak. "Dia mengidap kelainan seks, menyukai anak-anak atau phedopilia. Saat kami periksakan ke psikiater, tak ada tanda-tanda kelainan jiwa. Makanya kami tetap memproses. Untuk perbuatannya, tersangka akan dijerat pasal 328 dan 338 KUHP yakni pembunuhan dan penculikan dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara." 


SUKA ANAK-ANAK
Pantas saja Li Bing merasa kesal. Saat ditemui NOVA, Budi Han memang tampak tenang. Bahkan, ia menceritakan perbuatannya sambil tertawa-tawa. "Saya tahu, saya memang bersalah. Saya memang membunuh, tapi perbuatan saya itu terjadi begitu saja," kata pria yang sehari-hari dipanggil Budi.

KLIK - Detail Pria berperawakan sedang dan di kepala sebelah kirinya terdapat bekas luka ini, mengaku tak berniat membunuh. "Saya hanya ingin menyetubuhi para korban. Saya memang suka anak-anak. Sebenarnya kalau mereka diam saja, saya enggak bakalan membunuh. Karena saat saya setubuhi mereka menjerit, saya jadi kalap. Ya, terpaksa mereka saya habisi sekalian."

Budi mengaku, ia sebenarnya sayang pada dua korbannya itu. "Iya lo, saya sebenarnya ingin memberi perhatian pada Livya dan Ima Untuk memikat mereka, saya memberinya hadiah. Anak-anak, kan, mudah dirayu dengan hadiah. Setelah itu, barulah saya menggauli mereka. Jadi, sekali lagi enggak ada niat ingin bunuh. Cuma karena terjadi kesalahan teknis, maka terjadilah pembunuhan itu," kata Budi enteng.

Selain senang anak-anak, Budi mengaku bisa bergairah dengan orang dewasa. "Sebelum membunuh Livya, saya sempat punya pacar. Kami putus karena enggak cocok. Tapi, saya akui, saya memang pengidap phedopilia meski enggak permanen," kata Budi.

Usai membunuh Livya, Budi mengaku terus berpindah-pindah tempat di kawasan Jatiasih, Jatikramat, dan Bekasi Selatan. Hanya sesekali ia pulang ke rumah orang tuanya di kawasan Pondok Kopi. Budi pun yakin, selama dalam pelarian, ia tak bakal bisa ditangkap polisi.

"Saya memang melarikan diri. Habis penjahat mana, sih, yang mau tertangkap? Saya merasa tenang, kok. Habis selama ini saya tidak meninggalkan jejak. Pokoknya rapi dan sempurna. Eh, ternyata tertangkap juga. Saya salut dengan cara kerja mereka," ujar Budi yang mengaku hubungannya dengan keluarganya tak harmonis.

Budi mengatakan, sudah tiga tahun ini ia tak tinggal bersama orang tuanya. Ia memilih pindah-pindah tempat. "Saya tak tahan dikucilkan enam kakak saya. Mereka enggak terima karena saya terlalu disayang Ibu," ujar anak bungsu ini.

Setelah tertangkap polisi, Budi mengaku perasaannya campur aduk. Bergaya omongan politikus, Budi mengatakan, "Saya belum bisa mengeluarkan sikap tentang hati saya. Habis, saya belum tahu hukuman saya," ujar Budi yang akan minta maaf pada keluarga Livya dan Ima. "Tapi ketika mereka datang ke sini, saya lihat mereka masih marah dan emosi. Itu memang wajar."

DIKIRA KENA ANGIN DUDUK
Pengakuan Budi yang mengaku telah memerkosa Ima (10), mengagetkan ibunya, Sumarni (43). Setahu warga Jalan Masjid Al Mujahidin, Kelurahan Jatikramat, Jatiasih, Bekasi, ini, anaknya meninggal karena sakit pada 4 Februari 2006 silam. "Kok, tiba-tiba muncul pengakuan dari Budi seperti itu. Saya jelas kaget dan syok. Tentu saja saya marah pada pelakunya," ujar wanita yang sehari-hari berdagang sayur di kaki lima pasar Kincan Jatibening ini.

KLIK - Detail Sumarni menceritakan peristiwa enam bulan silam. Sebelum meninggal, seperti biasanya Ima mampir ke pasar menemui ibunya. "Dia buru-buru mau pulang. Katanya, dia mau nyuci baju dulu karena besok mau sowan ke rumah mbahnya (Kakek dan Nenek, Red.). Makanya saya tak mencegah kepergiannya," ujar wanita asal Boyolali, Jawa Tengah ini.

Setelah anaknya pulang, Sumarni mengaku perasaannya biasa-biasa saja. Sampai akhirnya Sumarni pulang. Betapa terkejutnya Sumarni ketika mendapati Ima di kamar dalam posisi nungging. "Saat saya panggil dia diam saja. Ternyata badannya sudah dingin," cetus Sumarni.

Kondisi anak sulungnya ini membuat Sumarni gugup. Ia memanggil tetangga dekatnya. Rumah Sumarni pun didatangi para tetangganya. Barulah Sumarnitahu, Ima sudah meninggal. "Kepergiannya tak mencurigakan. Makanya dia tak sempat diotopsi. Saya kira dia kena angin duduk," jelasnya.

Tetangga pun mengucapkan bela sungkawa pada Sumarni, termasuk Budi Han. "Dia mengaku kenal dengan Ima. Setelah itu, dia juga sering mendatangi saya di pasar. Katanya, sih, dia senang dengan kakak saya bernama Suprapto. Cuma kakak saya lagi depresi. Saya setuju saja asal kakak saya sembuh dulu."

Hingga tujuh bulan lamanya Sumarni tetap tidak mengetahui anaknya tewas secara tak wajar. Selama itu pula Budi masih sering mendatangi rumahnya. Barulah Selasa (26/9/2006) lalu, ia dihubungi polisi yang mengabarkan, anaknya korban dari kebrutalan Budi.

"Rasanya saya enggak kuat menerima kenyataan ini. Bisa-bisa saya stres menghadapinya. Hidup saya sudah hancur. Saya sudah masih punya satu anak bungsu. Ternyata, Ima meninggal setelah diperkosa," ratap Sumarni yang ditinggal pergi suami pertamanya saat Ima berusia 2,5 tahun.

Sumarni merasa menyesali kepergian Ima yang ia sayangi. Apalagi, Sumarni melahirkan Ima setelah 5 tahun menunggu kehadiran anak. Pernikahannya dengan suami kedua tiga tahun silam juga sudah dikaruniai momongan satu anak bungsu. "Makanya saya terpukul dengan kepergian Ima."

Di mata Sumarni, Ima adalah anak yang mau menerima apa adanya dan mandiri. "Walau prestasi sekolah biasa-biasa saja, cita-citanya tinggi. Ia ingin jadi dokter atau peragawati. Habis, kalau di depan kamera dia selalu bergaya. Wajahnya juga photogenic." 

Sumber: Tabloid Nova, Periode 2-8 Oktober 2006
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar