Rabu, 30 Januari 2013

Bawang Merah Bawang Putih 2


Bawang Merah Bawang Putih
Jatiranggon, Pondok Gede, Bekasi, 1976
Ceritanya berawal di sebuah rumah besar di Desa Jatiranggon, Pondok Gede (sekarang Jatisampurna), Bekasi, Jabar itu hidup seorang wanita muda bernama Mak Janda Jatiranggon (37) (Mpok Nori) dan dua orang gadis cantik. Di rumah itu tidak ada laki-laki karena dia telah meninggal. Dia meninggalkan dua gadis cantik dari ibu yang berbeda. Ibu kandung bernama Yasmin (43) (Leily Sagita) telah meninggal dan meninggalkan seorang gadis kecil yang cantik bernama Bawang Putih (18) (Nunung Srimulat). Dan ketika Bawang Putih telah dibangku SMA, ayahnya bernama Indra (44) (Nirin Kumpul) meninggalkan dia dengan ibu dan adik tirinya yang bernama Bawang Merah (17) (Omaswati). Itu adalah hal buruk bagi Bawang Putih karena Bawang Merah dan Mak Janda Jatiranggon bukanlah orang yang menyukai dirinya.

Bawang Putih adalah pembantu di rumahnya sendiri. Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dia membersihkan, mencuci dan juga memasak. Mak Janda Jatiranggon dan Bawang Merah menjadi ratu di rumah.

Di suatu hari yang biasa, Bawang Putih pergi ke sungai untuk mencuci baju adik tirinya. Dia juga kebetulan mencuci selendang ibu tirinya, Mak Janda Jatiranggon dan tidak sengaja menghanyutkan selendang itu. Itu menjadi sebuah masalah karena selendang itu adalah selendang favorit Mak Janda Jatiranggon. Ketika ibu tirinya mengetahui bahwa selendangnya telah hanyut, dia memukul Bawang Putih ke jalan. Dia tidak memperbolehkan Bawang Putih pulang sebelum Bawang Putih menemukan selandangnya.

Bawang Putih berjalan di sepanjang pinggir sungai, matanya melihat sekeliling untuk mencari selendang hijau di tumpukkan batu-batu di sungai Sunter di Jatiranggon. Namun, dia tidak melihat apapun. Bawang Putih melanjutkan perjalanannya. Dia berhenti di depan seorang ibu-ibu muda yang juga tetangganya Mak Janda Jatiranggon yang sedang mencuci disana. “Apakah ibu melihat selendang hijau yang hanyut?,tanya Bawang Putih kepada mereka.

“Ya, saya melihatnya. Nini Buto Ijo telah mengambilnya. Apakah itu milik Bawang Putih?,  seorang dari mereka bertanya kepada Bawang Putih.

“ Iya, saya harus mendapatkannya segera, ” kata Bawang Putih.

“Bawang Putih, Nini Buto Ijo itu orangnya baik,” mereka memperingati Bawang Putih.

Nini Buto Ijo (47) (Mpok Atiek) adalah janda wanita tua yang beranak dua bernama Timun Emas (20) (Tuti Hestuti) dan Sawung Galing (17) (Mandra). Nini Buto Ijo pun berteman dengan tetangganya Mak Janda Jatiranggon. Rambutnya seperti uban-uban. Dia hampir kehilangan giginya. Humor mengatakan bahwa dia memasak dari tulang manusia. Itu menakutkan.

Meskipun sudah berkenalan dengan Nini Buto Ijo sejak masih kelas 4 SD, Bawang Putih datang kerumah Nini Buto Ijo. Rumahnya terlihat bersih dan rapi. Seperti banyak orang yang pernah ke rumahnya. Bawang Putih mengetuk pintunya dengan hati-hati. Dia mendengar seseorang berjalan menuju pintu. Bawang Putih sedikit takut. Pintunya terbuka, seorang berwajah pucat terlihat. Matanya melihat dengan tajam, dia terlihat bersahabat.  

Oh ya Nini melihatnya, Bawang Putih. Sekarang selendangnya ada di rumah Nini” wanita tua itu ramah. Dia tersenyum sedikitpun setelah itu.

“Saya mencari sebuah selendang. Warnanya hijau. Tetangga ibu tiri saya disungai berkata Nini telah mengambilnya. Selandang itu milik ibu saya.” Kata Bawang Putih.

“ Ya, Nini mengalimnya,kata Buto Ijo. ”Tapi jika kamu mau selendang itu, kamu harus tinggal disini untuk sementara dan melakukan apa yang Nini perintahkan.”

“Apa yang engkau mau saya lakukan?” kata Bawang Putih.
Nini mau kamu membersihkan rumah dan taman. Kamu juga harus memasak untuk Nini,  Nini Buto Ijo memberi perintahnya.

Bawang Putih setuju. Dia tinggal disana untuk sementara, memasak dan membersihkan rumah Nini Buto Ijo. Faktanya, Nini Buto Ijo adalah seorang wanita tua yang baik hati. Dia menyukainya. Setelah beberapa hari, Nini Buto Ijo memberi selendang itu kepada Bawang Putih.

Sebelum Bawang Putih meninggalkan rumah itu, Nini Buto Ijo memberikannya sebuah labu. “Ini adalah labu, satu dari mereka dalah milikmu Bawang Putih, bukalah setelah kamu sampai dirumah,” kata Nini Buto Ijo. Bawang Putih mengambil labu yang kecil, “Terima kasih Nini Buto Ijo,” katanya. Kemudian dia pergi pulang.

Sesampai dirumah, Bawang Putih memotong labu itu. Dia terkejut melihat didalam labu itu ada seikat perhiasan. Mak Janda Jatiranggon dan Bawang Merah pun terkjut. “Dari mana kak Putih mendapatkannya?, tanya Bawang Merah. “Tadi, Nini Buto Ijo memberikannya kepadaku,“ kata Bawang Putih. Kemudian dia menceritakan ceritanya kepada mereka. Mak Janda Jatiranggon dan Bawang Merah sangat senang. Mereka pun melompat-lompat kegirangan sambil berteriak, "Kita kaya..! Kita kaya..!"

Bawang Merah dan Mak Janda Jatiranggon senang bukan kepalang, dan menjual perhiasan tersebut ke Pasar Baru Jatiasih....dan memborong banyak pakaian dan peralatan elektronik untuk dibawa pulang kerumah, dengan rasa sombong yang luar biasa.

Tanpa mereka sadari perampok menguntit perjalanan mereka. Lalu tengah malam perampok itu menguras habis harta Bawang Merah dan Mak Janda Jatiranggon serta mengikat mereka di kamar.

Akibat kesombongannya memamerkan harta, Bawang Merah dan Mak Janda Jatiranggon dirampok dan diikat di kamarnya lalu ditolong oleh Bawang Putih.

Mak Janda Jatiranggon kemudian memaksa Bawang Merah juga ingin mendapatkan labu yang berisi perhiasan. Kemudian di pergi ke sungai Sunter di Jatiranggon dan menghanyutkan selendangnya dengan sengaja. Dia mengikuti selendang itu dan dia melihat Nini Buto Ijo mengambilnya. Dia kemudian pergi ke rumah Nini Buto Ijo dan bertanya tentang selendangnya.

Nini Buto Ijo berkata jika ia mau selendangnya dia harus tinggal dan mengerjakan pekerjaan rumah. Baru beberapa hari tinggal di rumah itu, Bawang Merah merasa bosan. Padahal, Bawang Merah tidak pernah mengerjakan apa-apa. Ia hanya bersantai saja seharian. Nini Buto Ijo sangat marah besar dan jengkel kepada Bawang Merah.

Setelah beberapa hari, Nini Buto Ijo memberikan slendangnya. Sebelum Bawang Merah meningggalkan rumahnya, Nini Buto Ijo memberikannya sebuah labu. Bawang Merah sangat senang. Pikirannya penuh akan bayangan dari perhiasan. Bawang Merah mengambil labu yang paling besar. Dia berlari menuju rumahnya. Dia sudah tidak sabar untuk memotong labu dan mendapat perhiasan di dalamnya.

Ketika dia sampai di rumah, di mengambil pisau dan memotong labu itu. Dia terkejut melihat ular keluar dari labu bukannya perhiasan. Dia kemudian membuang labu itu dan berlari keluar dari rumah.

Jatiranggon, Pondok Gede, Bekasi, 1978
Keesokan hari Mak Janda Jatiranggon (39) (Mpok Nori) menyuruh Bawang Putih (20) (Nunung Srimulat) belanja di Pasar Baru Jatiasih, namun uang yang diberi ibu nya hanya Rp 50.000, sedangkan yang harus dibelinya begitu banyak. Bawang Putih pun bingung bagaimana mencukupi kebutuhan yang harus dibeli hanya menggunakan uang Rp 50.000 saja.

Bawang Putih berusaha berfikir bagaimana caranya ia langsung pergi ke sungai Sunter di Jatiranggon.. Tiba-tiba muncullah seekor ikan mas dihadapan Bawang Putih, ia pun terkejut karna sepertinya ikan mas itu bukan ikan biasa melainkan ikan ajaib yang bisa bicara dengan manusia.

Ikan mas itu pun menghampiri dan menyapa Bawang Putih, “Apa yang sedang kamu lakukan disini Bawang Putih, tampaknya kamu begitu gelisah?“. Bawang Putih menjawab dengan terbata-bata .

“Mengapa kamu bersedih sahabatku ,“ tanya Ikan Mas.

“Aku lagi bingung ikan mas, ibu tiriku menyuruhku belanja di Pasar Baru Jatiasih dan memberiku uang sedikit sekali, padahal yang harus aku beli begitu banyak,” tanya Bawang Putih.

“Benarkah itu ikan emas?,“ tanya Bawang Putih.

“Ambillah kepingan emas ini, lalu juallah keping emas ini di Pasar Baru Jatiasih dan kamu bisa membeli belanjaan tersebut.“

Tapi ternyata, diam-diam Bawang Merah (19) (Omaswati) mengikuti Bawang Putih dan tidak sengaja Bawang Putih melihat Bawang Merah yang sedang bicara pada ikan mas ajaib. Cepat-cepat Bawang Merah menemui ibunya, Mak Janda Jatiranggon dan menyuruh Mak Janda Jatiranggon membawa jala. Mereka berdua mendengar semua apa yang dibicarakan Bawang Putih dan ikan mas.

Kemudian Bawang Putih segera ke Pasar Baru Jatiasih dan meninggalkan ikan emas.

Tiba-tiba, “hikk, hikk “ jeritan ikan mas yang merasa kesakitan, berusaha berteriak namun tak ada yang menolong. Ternyata Bawang Merah dan Mak Janda Jatiranggon yang berusaha menangkap ikan mas ajaib itu secara kasar.

 “Kena kau ikan bodoh, hahahah,“ ujar Bawang Merah tertawa terbahak-bahak dan membawa ikan itu pulang.

Sesampai dirumah, Bawang Merah dan Mak Janda Jatiranggon menggoreng ikan tersebut dan memberi nya pada Bawang Putih.

“Hemmm,,,,, ini ada lauk pauk yang lezat dan enak untuk Bawang Putih, makanlah Bawang Putih”, ujar Bawang putih pun makan dengan perasaan heran.

Kemudian Bawang Merah menceritakan bahwa ikan yang dimakan Bawang Putih itu adalah sahabatnya ikan emas. Betapa sedihnya Bawang Putih, ia pun merasa bersalah .

Segera dikuburnya kerangka ikan emas ajaib sahabatnya itu di halaman rumah. Lalu kerangka ikan tersebut tumbuh menjadi pohon yang berdaun emas dan bertangkai perak.

Keesokan harinya seorang mahasiswa yang juga teman Bawang Putih semasa SMA bernama Panji Aji (21) (Tukul Arwana) yang melihat pohon tersebut dan langsung menanyakan kepada bawang merah siapa yang menanam pohon tersebut. Dengan bangganya, Bawang Merah mengakui bahwa dirinyalah yang menanam pohon tersebut. Lalu Panji Aji mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa mencabut pohon tersebut akan dijadikan permaisuri jika seorang perempuan, namun jika laki-laki akan dijadikan saudara.

Banyak orang mencoba mancabuti pohon emas tersebut termasuk Bawang Putih,tapi tidak seorangpun yang bisa mencabut pohon tersebut.

Kemudian muncullah Bawang Putih dan Nini Buto Ijo, dan ia mengatakan “Tunggu mas Panji, akulah yang menanam pohon emas ini dan izinkan aku mencoba mencabut pohon tersebut“

Dengan senang hati, “Silahkan!”, ujar Mas Panji.

Ternyata Bawang Putih bisa mecabuti pohon emas bertangkai perak tersebut dan segera diberinya pada Panji Aji. Lalu Bawang Putih menjadi seorang permaisuri yang mendampingi Panji Aji dan temannya, Nini Buto Ijo, Timun Emas, dan Sawung Galing. Bawang Merah pun merasa malu atas perbuatannya selama ini terhadap Bawang Putih. Hari-hari berikutnya Bawang Merah dan Mak Janda Jatiranggon merasa dikejar-kejar oleh massa sampai dia agak gila. Hingga akhirnya Bawang Merah dan Mak Janda Jatiranggon tertabrak oleh sebuah mobil sedan. Seketika itu Bawang Merah dan ibunya meninggal dunia.

Jakarta Timur, 1984
Enam tahun kemudian, Bawang Putih (26) (Nunung Srimulat) pun menikah dan hidup bahagia bersama Panji Aji (27) (Tukul Arwana).