Rabu, 15 Maret 2006

Andre-Andre Lutung: Bawang Merah Bawang Putih


Andre-Andre Lutung:
Bawang Merah Bawang Putih:

Pemeran:
1.      Imel Putri Cahyati sebagai Alya (Bawang Putih)
2.      Jennifer Dunn sebagai Siska (Bawang Merah)
3.      Choky Andriano sebagai Ferdi
4.      Mega Aulia sebagai Rika (Mak Kundur Jatiranggon)
5.      Aris Kurniawan Yulianto sebagai Indra
6.      Lilis Sugandha sebagai Yasmin (Mak Labu Jatiranggon)
7.      Mpok Atiek sebagai Bu Surati
8.      Alenta Sanmairina Hombing sebagai Timun Emas
9.      Farhad sebagai Sawung Galing

Sinopsis:
Jatiranggon, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, 1998
Ceritanya berawal di sebuah rumah sedeharna di Jatiranggon, Pondok Gede (sekarang Jatisampurna), Bekasi, Jawa Barat itu hidup seorang wanita muda bernama Rika (37) (Mega Aulia) dan dua orang gadis cantik. Di rumah itu tidak ada laki-laki karena dia telah meninggal. Dia meninggalkan dua gadis cantik dari ibu yang berbeda. Ibu kandung bernama Yasmin (43) (Lilis Sugandha) telah meninggal dan meninggalkan seorang gadis kecil yang cantik bernama Alya alias Bawang Putih (18) (Imel Putri Cahyati). Dan ketika Bawang Putih telah dibangku SMA, ayahnya bernama Indra (44) (Aris Kurniawan Yulianto) meninggalkan dia dengan ibu dan adik tirinya yang bernama Siska alias Bawang Merah (17) (Jennifer Dunn). Itu adalah hal buruk bagi Alya karena Siska dan Rika bukanlah orang yang menyukai dirinya.

Alya adalah pembantu di rumahnya sendiri. Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dia membersihkan, mencuci dan juga memasak. Rika dan Siska menjadi ratu di rumah.

Di suatu hari yang biasa, Alya pergi ke sungai untuk mencuci baju adik tirinya. Dia juga kebetulan mencuci selendang ibu tirinya, Rika dan tidak sengaja menghanyutkan selendang itu. Itu menjadi sebuah masalah karena selendang itu adalah selendang favorit Rika. Ketika ibu tirinya mengetahui bahwa selendangnya telah hanyut, dia memukul Alya ke jalan. Dia tidak memperbolehkan Alya pulang sebelum Alya menemukan selandangnya.

Alya berjalan di sepanjang pinggir sungai, matanya melihat sekeliling untuk mencari selendang hijau di tumpukkan batu-batu di sungai Sunter di Jatiranggon. Namun, dia tidak melihat apapun. Alya melanjutkan perjalanannya. Dia berhenti di depan seorang ibu-ibu muda yang juga tetangganya Rika yang sedang mencuci disana. “Apakah ibu melihat selendang hijau yang hanyut?,tanya Alya kepada mereka.

“Ya, saya melihatnya. Bu Surati telah mengambilnya. Apakah itu milik Nak Alya?,  seorang dari mereka bertanya kepada Alya.

“Iya, saya harus mendapatkannya segera,” kata Alya.

Nak Alya, Bu Surati itu orangnya baik,” mereka memperingati Alya.

Bu Surati (47) (Mpok Atiek) adalah janda wanita tua yang beranak dua bernama Timun Emas (20) (Alenta Sanmairina Hombing) dan Sawung Galing (17) (Farhad). Bu Surati pun berteman dengan tetangganya Mak Janda Jatiranggon. Rambutnya seperti uban-uban. Dia hampir kehilangan giginya. Humor mengatakan bahwa dia memasak dari tulang manusia. Itu menakutkan.

Meskipun sudah berkenalan dengan Bu Surati sejak masih kelas 4 SD, Alya datang kerumah Bu Surati. Rumahnya terlihat bersih dan rapi. Seperti banyak orang yang pernah ke rumahnya. Alya mengetuk pintunya dengan hati-hati. Dia mendengar seseorang berjalan menuju pintu. Alya sedikit takut. Pintunya terbuka, seorang berwajah pucat terlihat. Matanya melihat dengan tajam, dia terlihat bersahabat. 

Oh ya aku melihatnya, Alya. Sekarang selendangnya ada di rumah aku,” wanita tua itu ramah. Dia tersenyum sedikitpun setelah itu.

Tante, aku mencari sebuah selendang. Warnanya hijau. Tetangga ibu tiriku disungai berkata tante telah mengambilnya. Selandang itu milik ibu tiriku,kata Alya.

Ya, Tante mengalimnya,kata Bu Surati. ”Tapi jika kamu mau selendang itu, kamu harus tinggal disini untuk sementara dan melakukan apa yang aku perintahkan.”

“Apa yang tante, mau aku lakuin?” kata Alya.

Aku mau kamu membersihkan rumah dan taman. Kamu juga harus memasak untuk aku,  Bu Surati memberi perintahnya.

Alya setuju. Dia tinggal disana untuk sementara, memasak dan membersihkan rumah Bu Surati. Faktanya, Bu Surati adalah seorang wanita tua yang baik hati. Dia menyukainya. Setelah beberapa hari, Bu Surati memberi selendang itu kepada Alya.

Sebelum Alya meninggalkan rumah itu, Bu Surati memberikannya sebuah labu. “Ini adalah labu, satu dari mereka dalah milikmu Alya, bukalah setelah kamu sampai dirumah,” kata Bu Surati. Alya mengambil labu yang kecil, “Terima kasih tante Surati,” katanya. Kemudian dia pergi pulang.

Sesampai dirumah, Alya memotong labu itu. Dia terkejut melihat didalam labu itu ada seikat perhiasan. Rika dan Siska pun terkejut. “Dari mana mbak Alya mendapatkannya?,tanya Siska. “Tadi, Tante Surati memberikannya kepadaku,“ kata Alya. Kemudian dia menceritakan ceritanya kepada mereka. Namun, Rika tidak terlihat bahagia. Ia justru menyukai labu berisi perhiasan. “Apa? Kamu udah nemui selendang mama yang dulu hilang? Tapi sayang banget, mama udah nggak suka selendang itu lagi! Sekarang, mama hanya mau menikmati labu berisi perhiasan!” Rika dan Siska sangat senang. Mereka pun melompat-lompat kegirangan sambil berteriak, "Kita kaya..! Kita kaya..!"

Siska dan Rika senang bukan kepalang, dan menjual perhiasan tersebut ke Pasar Baru Jatiasih....dan memborong banyak pakaian dan peralatan elektronik untuk dibawa pulang kerumah, dengan rasa sombong yang luar biasa.

Tanpa mereka sadari perampok menguntit perjalanan mereka. Lalu tengah malam perampok itu menguras habis harta Siska dan Rika serta mengikat mereka di kamar.

Akibat kesombongannya memamerkan harta, Siska dan Rika dirampok dan diikat di kamarnya lalu ditolong oleh Alya.

Rika kemudian memaksa Siska juga ingin mendapatkan labu yang berisi perhiasan. Kemudian di pergi ke sungai Sunter di Jatiranggon dan menghanyutkan selendangnya dengan sengaja. Dia mengikuti selendang itu dan dia melihat Bu Surati mengambilnya. Dia kemudian pergi ke rumah Bu Surati dan bertanya tentang selendangnya.

Bu Surati berkata ia jika ia mau selendangnya dia harus tinggal dan mengerjakan pekerjaan rumah. Baru beberapa hari tinggal di rumah itu, Siska merasa bosan. Padahal, Siska tidak pernah mengerjakan apa-apa. Ia hanya bersantai saja seharian. Bu Surati sangat marah besar dan jengkel kepada Siska.

Setelah beberapa hari, Bu Surati memberikan selendangnya. Sebelum Siska meningggalkan rumahnya, Bu Surati memberikannya sebuah labu. Siska sangat senang. Pikirannya penuh akan bayangan dari perhiasan. Siska mengambil labu yang paling besar. Dia berlari menuju rumahnya. Dia sudah tidak sabar untuk memotong labu dan mendapat perhiasan di dalamnya. Selama perjalanan pulang, Siska membayangkan buah semangka itu berisi emas dan intan berlian. Sampai di rumah.. “Mama! Cepat Ma! Bawa pisau kemari. Kita belah labu ini!” teriak Siska.

Ketika dia sampai di rumah, di mengambil pisau dan memotong labu itu. Dia terkejut melihat ular keluar dari labu bukannya perhiasan. Dia kemudian membuang labu itu dan berlari keluar dari rumah.

Jatiranggon, Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, 2000
Dua tahun kemudian, Rika (39) (Mega Aulia) menyuruh Alya (20) (Imel Putri Cahyati) belanja di Pasar Baru Jatiasih, namun uang yang diberi ibu tirinya hanya Rp 50.000, sedangkan yang harus dibelinya begitu banyak. Alya pun bingung bagaimana mencukupi kebutuhan yang harus dibeli hanya menggunakan uang Rp 50.000 saja.

Alya berusaha berfikir bagaimana caranya ia langsung pergi ke sungai Sunter di Jatiranggon.. Tiba-tiba muncullah seekor ikan mas dihadapan Bawang Putih, ia pun terkejut karna sepertinya ikan mas itu bukan ikan biasa melainkan ikan ajaib yang bisa bicara dengan manusia.

Ikan mas itu pun menghampiri dan menyapa Alya, “Apa yang sedang kamu lakukan disini Alya, tampaknya kamu begitu gelisah?“. Alya menjawab dengan terbata-bata .

“Mengapa kamu bersedih sahabatku ,“ tanya Ikan Mas.

“Aku lagi bingung ikan mas, mama Rika menyuruhku belanja di pasar dan memberiku uang sedikit sekali, padahal yang harus aku beli begitu banyak,” tanya Alya.

“Benarkah itu ikan emas?,“ tanya Alya.

“Ambillah kepingan emas ini, lalu juallah keping emas ini di pasar dan kamu bisa membeli belanjaan tersebut.“

Tapi ternyata, diam-diam Siska (19) (Jennifer Dunn) mengikuti Alya dan tidak sengaja Siska melihat Alya yang sedang bicara pada ikan mas ajaib. Cepat-cepat Siska menemui ibunya, Rika dan menyuruh Rika membawa jala. Mereka berdua mendengar semua apa yang dibicarakan Alya dan ikan mas.

Kemudian Alya segera ke Pasar Baru Jatiasih dan meninggalkan ikan emas.

Tiba-tiba, “Hikk, hikk“ jeritan Ikan Mas yang merasa kesakitan, berusaha berteriak namun tak ada yang menolong. Ternyata Siska dan Rika yang berusaha menangkap ikan mas ajaib itu secara kasar.

 “Kena lo ikan bodoh, hahahah,“ ujar Siska tertawa terbahak-bahak dan membawa ikan itu pulang.

Sesampai dirumah, Siska dan Rika menggoreng ikan tersebut dan memberinya pada Alya.

“Hemmm,,,,, ini ada lauk pauk yang lezat dan enak untuk mbak Alya, makanlah mbak”, ujar Siska pun makan dengan perasaan heran.

Kemudian Siska menceritakan bahwa ikan yang dimakan Alya itu adalah sahabatnya Ikan Mas. Betapa sedihnya Alya, ia pun merasa bersalah .

Segera dikuburnya kerangka ikan mas ajaib sahabatnya itu di halaman rumah. Lalu kerangka ikan tersebut tumbuh menjadi pohon yang berdaun emas dan bertangkai perak.

Keesokan harinya seorang mahasiswa yang juga teman Alya semasa SMA bernama Ferdi (21) (Choky Andriano) yang melihat pohon tersebut dan langsung menanyakan kepada Siska siapa yang menanam pohon tersebut. Dengan bangganya, Siska mengakui bahwa dirinyalah yang menanam pohon tersebut. Lalu Ferdi mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa mencabut pohon tersebut akan dijadikan permaisuri jika seorang perempuan, namun jika laki-laki akan dijadikan saudara.

Banyak orang mencoba mancabuti pohon emas tersebut termasuk Alya, tapi tidak seorangpun yang bisa mencabut pohon tersebut.

Kemudian muncullah Alya dan Bu Surati, dan ia mengatakan “Tunggu Ferdi, guelah yang menanam pohon emas ini dan izinin gue coba mencabut pohon tersebut“

Dengan senang hati, “Silahkan!”, ujar Ferdi.

Ternyata Alya bisa mecabuti pohon emas bertangkai perak tersebut dan segera diberinya pada Ferdi. Lalu Alya menjadi seorang permaisuri yang mendampingi Ferdi dan temannya, Bu Surati, Timun Emas, dan Sawung Galing. Siska pun merasa malu atas perbuatannya selama ini terhadap Alya. Hari-hari berikutnya Siska dan Rika merasa dikejar-kejar oleh massa sampai dia agak miskin. Hingga akhirnya Siska dan Rika tertabrak oleh sebuah mobil sedan. Seketika itu Siska dan ibunya meninggal dunia.

Jakarta Timur, Maret 2006
Enam tahun kemudian, Alya (26) (Imel Putri Cahyati) pun menikah dan hidup bahagia bersama Panji Aji (27) (Choky Andriano).