Selasa, 25 Januari 2005

Romantika Hidup & Cinta Zarima Mirafsur (Part 2)


Selasa, 25 Januari 2005
Romantika Hidup & Cinta Zarima Mirafsur (Part 2)
Hingga suatu kali Mardiah dengan wajah tegang dan kusut berkumpul dengan anak-anaknya di kamar lantai atas. Dari pintu di lantai bawah terdengar ketukan keras berkali-kali, sambil menyebutkan nama Mardiah. Suara ayah Zarima, Mirafsur. "Saya sempat bertanya, itu suara Papi, tapi kenapa Mami tak membukakan pintu?" cerita Zarima. Tapi, detik itu juga Mardiah berteriak keras, "Jangan ada yang berani turun ke bawah atau membukakan pintu! Mami dan Papi sudah bercerai!" Zarima terhenyak. Kemudian didengarnya lamat-lamat, suara langkah ayahnya yang kian menjauh. Sejak itu ayahnya tak pernah lagi pulang.

"Sungguh itu hantaman cukup keras dalam hidup saya. Bayangkan, saya tak pernah tahu apa masalah yang terjadi antara Mami dan Papi. Yang saya tahu adalah hari-hari yang indah. Saya sekolah dan menyanyi, Mami dan Papi bekerja di warungnya yang laris. Saya pikir dunia akan terus damai. Tahu-tahu saya dihadapkan pada kenyataan yang menyedihkan setiap anak-anak, ditinggal Ayah," ujar Zarima. Jika ingin mengikuti rasa sedih yang meluap di hatinya, Zarima ingin menangis. Tapi, niat itu tak pernah terjadi, karena ia melihat ketegaran ibunya. Tak sedikit pun Zarima meneteskan air mata setelah peristiwa malam itu.

Praktis setelah kejadian itu, hidup Zarima mengalami perubahan. Mardiah makin keras mendidik anak-anaknya. Berjuang sendirian menghidupi keluarga membuat Mardiah terpaksa ekstra ketat membatasi pengeluaran. Stres yang menghinggapi perasaannya juga membuat Mardiah mudah marah. Tapi hebatnya, Mardiah sama sekali tak menghentikan biaya berbagai kursus
seni yang diikuti Zarima. Padahal, Zarima yang mulai mencium gelagat tak enak, berusaha untuk tahu diri dan bersiap untuk tidak lagi bisa menikmati berbagai aktivitas seni. "Kamu nggak boleh berhenti, Mami ingin kamu sukses menjadi seniman," kata Mardiah waktu itu.

Bahkan, ketika Zarima bercerita tentang sebuah kelompok seni terkemuka, Swara Mahardhika (SM), ibunya begitu antusias. "Saya berpikir, daripada Zarima ikut berbagai kursus seni, lebih baik masuk di sanggar yang menyeluruh. Ada unsur seni suara, tari, bahkan modeling," tutur Mardiah. Bersama Femmy Permatasari, teman sekolahnya yang juga tinggal di Pasar Minggu, Zarima dengan riang mendaftar ke sanggar pimpinan Guruh Sukarno Putra itu.

Tapi, nasib memang sulit dilawan. Warungnya sempat 'dipangkas' petugas karena luasnya dianggap melewati batas perizinan. Ketika Zarima pulang sekolah, dilihatnya warung ibunya sudah porak poranda. Atap teras dihancurkan. Zarima mendapati ibunya tercenung dengan mata basah. Mardiah, tanpa banyak bicara, mengajak anak-anaknya ke rumah seorang keluarga untuk mengentaskan rasa sedih. Tak ada air mata. Tapi, Zarima melihat jelas bagaimana luka dan bingungnya perasaan sang ibu.

Tak berlama-lama menimbun rasa sedih, Mardiah berjuang lagi. Ia memutuskan pindah ke kawasan lain di Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Rumah yang lebih kecil, dengan warung yang juga lebih kecil. Rupanya, kali ini Mardiah tak mau hanya berharap dari pendapatan di warung saja. Ia mulai menoleh peluang yang lain.

Waktu itu kebetulan sedang musim arisan call. Konon, arisan ini sangat mudah mendatangkan uang besar dalam sekejap, walaupun bisa juga menjerumuskan orang dalam belitan utang. Meski banyak orang yang punya pengalaman buruk, Mardiah mencoba mengadu nasib. Ia menggalang uang dari sejumlah ibu-ibu di Pasar Minggu untuk disertakan dalam arisan call di Kebayoran Baru. Seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya, Mardiah berharap pendapatan besar segera diraupnya, dan ia bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.

Apa boleh dikata, suatu saat, sebuah hantaman keras menerpa Mardiah lagi. Ternyata, si penyelenggara arisan punya niat buruk dan menipunya. Mardiah histeris. Terbayang di benaknya uang para ibu di Pasar Minggu yang menjadi jaminannya.

"Mami sangat depresi saat itu," kenang Zarima. Tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit tandas untuk menggantikan uang tersebut. Bukan itu saja, Mardiah juga terpaksa menjual banyak barang-barangnya, termasuk piano kebanggaan Zarima! "Sedih rasanya waktu melihat piano kesayangan itu dijual. Meski Mami berjanji akan membelikan lagi suatu saat kelak,
saya tetap menangis," tutur Zarima pelan.

Kejatuhan ekonomi, membuat Zarima dan saudara-saudaranya terpaksa berpindah tempat lagi. Kali ini cukup membuat Zarima shock. Ibunya membeli rumah yang amat sederhana di sebuah gang di kawasan Cawang, Jakarta Timur. "Bagaimana tidak kaget. Dulu, meskipun kecil, rumah di Pasar Minggu terasa nyaman dan indah. Tapi, waktu pindah ke Cawang, kami menempati rumah yang sangat kecil dan sumpek," ceritanya.

Bukan itu saja, Zarima juga terpaksa menempuh perjalanan cukup jauh untuk ke sekolah. Maklumlah, ia enggan berpindah dari sekolahnya, SMPN 107 Jakarta. Jadilah Zarima harus empat kali ganti kendaraan setiap kali perjalanan ke sekolah. Dari rumahnya yang terletak di dalam gang, ia naik becak ke jalan besar. Lalu disambung dengan metromini ke jalan yang lebih besar lagi. Dilanjutkan dengan naik bus menuju Jl. Raya Pasar Minggu, dan sekali lagi naik metromini menuju sekolahnya. Sering kali, karena lelah, ia tertidur dalam bus. Lagi-lagi Zarima tidak mengeluh. Alasannya, apa lagi kalau bukan karena melihat upaya keras ibunya memperjuangkan keluarga. Zarima tak ingin membuat ibunya sedih atau kecewa.

DARI GANG MENJADI SEORANG BINTANG
Inilah hebatnya seorang Zarima Mirafsur. Kombinasi dari didikan keras ibunya dan bakat seni yang bergejolak dalam dirinya membuat Zarima tak pernah menerjemahkan duka dengan menangis. "Waktu itu rasanya, kok, cengeng sekali bila menangis atau mengeluh," katanya. "Kami sudah terbiasa menelan kesedihan dengan cara belajar atau bernyanyi," tambah Zarima lagi.

Itulah sebabnya, meski hidup bertambah prihatin, Zarima tetap bersemangat wira-wiri di dunia seni. Ia mengisahkan bagaimana harus mengalahkan rasa minder melihat anggota SM yang kebanyakan adalah remaja-remaja berada. "Rumah mereka kebanyakan di Kebayoran, keren-keren karena ditunjang finansial yang bagus," kenang Zarima. Ia tak patah arang. Apalagi atmosfer di SM amat bersahabat dan membangun kreativitas. Asalkan ia bisa menjadi anggota yang kreatif dan berbakat, semua bisa menghormatinya.

Tak jarang Mardiah ikut menyertai Zarima latihan. Rupanya ia amat bangga putrinya bisa masuk sanggar yang terkenal itu. Keduanya biasa pergi ke Jl. Sriwijaya (markas SM) dengan bus. Tapi, belakangan Zarima mulai bingung. Pasalnya, menjelang pementasan, Guruh mewajibkan anak-anak didiknya untuk mengenakan sanggul dan kain dari rumah, agar bisa menghayati kostum. Jadilah Zarima terpaksa merayu ibunya untuk memberikan ongkos taksi. "Mau bagaimana, kan malu naik bus pakai kain...!" Zarima tertawa.

Saat itu, Zarima juga sudah mulai menjajal dunia model. Anak-anak SM memang cukup mudah melangkah ke dunia model. Apalagi kebanyakan memiliki tubuh yang bagus dan wajah yang cantik. Beberapa kali Zarima menjadi model di majalah-majalah remaja. Wajahnya mulai dikenal masyarakat.

Perkembangan Zarima membuat Mardiah kian terpacu mengembangkan bakat putrinya. Diam-diam Yeni mengamati peta musik Indonesia. Selagi Zarima sekolah atau latihan, Mardiah sibuk mencari informasi tentang peluang tampil di TVRI, atau lomba-lomba bergengsi.

Tahun 1985, Zarima mengikuti Lomba Bintang Radio & Televisi. Mengenakan busana warna merah dan hitam yang feminin, penampilan Zarima benar-benar memukau para juri. Ia berhasil menyabet juara tiga, sekaligus juara berpenampilan terbaik. Bukan main kagetnya Zarima, karena ia tidak berharap banyak. "Saya terperangah. Mami menangis. Sejak itu, saya melihat harapan yang besar dan serius di dunia tarik suara," cerita Zarima. Rumah kecil di gang sempit di Cawang itu menjadi saksi ibu-anak ini saling mencurahkan harapan-harapan memperbaiki hidup ke depan lewat seni.

Bukan hanya Zarima yang bersemangat, Mardiah pun kian terpacu. Dari keuletannya mencari informasi, Zarima bisa muncul menyanyi di beberapa acara TVRI, seperti Kamera Ria. Mardiah menyambut semangat Zarima dengan spirit yang tak kalah besar. Ia ingin Zarima bisa tampil di acara yang lebih populer seperti Aneka Ria Safari. Padahal, salah satu persyaratan tampil di sana adalah harus mempromosikan album terbaru. Mardiah yang penasaran, mendatangi langsung bos Aneka Ria Safari, Eddy Sud, di kantornya di Kemang, Jakarta Selatan. Jawabannya sama, Zarima harus membuat album dulu jika ingin tampil.

"Meskipun saya bersemangat, nyali saya tak sebesar Mami. Di saat saya mencoba realistis, Mami berani melewati rintangan dan tetap optimistis," ujar Zarima. "Jika sekarang saya merenungi karier saya, tak ada yang paling berjasa selain Mami. Dialah sutradara dari seluruh sukses saya," katanya tentang maminya yang tetap aktif di usianya yang 64 tahun itu.

Peluang rekaman agaknya terlihat sulit, karena kesempatan itu jelas tak mudah. Tapi, Mardiah memang luar biasa. Suatu siang, Mardiah dengan riang mengabarkan, "Zarima, kamu bisa rekaman...!"
Sumber: Tabloid Jelita, Periode 24-30 Januari 2005