Senin, 24 Januari 2005

Romantika Hidup & Cinta Zarima Mirafsur (Part 1)

Senin, 24 Januari 2005
Romantika Hidup & Cinta Zarima Mirafsur (Part 1)
"Zaarimaaa...!" suara lantang seorang wanita bernada galak menggema di sebuah rumah sederhana di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Buat tetangga sekitar rumah itu, suara galak tersebut bukan 'bunyi' yang asing. Maklumlah, si empunya rumah memang terkenal streng terhadap anak-anaknya. Yang dipanggil, seorang anak perempuan mungil berhidung bangir dan berkulit putih, rupanya tengah asyik berjoget di kamarnya. Tepatnya kamar yang ditempati bersama kelima saudaranya. Di tengah deretan tempat tidur yang mirip barak itu, ia tampak cling dengan baju terbaiknya. Dari penampilannya kentara sekali kalau si gadis kecil baru saja berdandan 'habis-habisan'.

"Saya lagi latihan, Mi...," kata si gadis kecil dengan mata bekerjap menatap ibunya takut-takut. Demi melihat tingkah putrinya, Mardiah Rumangkang, sang ibu yang berteriak tadi, kontan tersenyum lega. Suara galaknya berubah lembut, "Ya, sudah, tapi habis ini belajar, ya...." Setelah mengucapkan kalimat itu, Mardiah kembali menuruni anak tangga. Memasuki dapur warung makannya, memasak, sambil menanti pembeli bertandang ke warung. Sesekali ia menguping suara centil anaknya mendendangkan lagu. Tak pernah terbayang di benak Mardiah, 'penyanyi cilik'nya kelak bakal menjadi diva di pentas musik Indonesia!

DIBESARKAN DI WARUNG MAKAN
Prihatin tapi riang, begitulah warna masa kecil Zarima Mirafsur. "Meski hidup kami serba pas-pasan, Zarima tumbuh dalam kegembiraan karena dia amat mencintai seni," kenang Mardiah, ibunya. Lahir di Jakarta, 3 Maret 1968, putri kedua dari 5 bersaudara ini punya masa kecil yang unik. Suasana rumah yang bergabung dengan warung makan menjadi setting kehidupan
yang lekat dengan keseharian Zarima di masa kecil. Meski penghasilannya besar, Mardiah adalah tipe orang tua yang amat peduli pada kualitas pendidikan anak-anaknya.

Membesarkan lima anak yang sedang beranjak besar, membuat Mardiah rela membanting tulang agar bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang baik. Mardiah yang berdarah Bugis-Manado dan suaminya, Mirafsur Zulmi, yang berdarah Melayu-Lampung kebetulan memiliki bakat memasak. Pasangan yang pertama kali bertemu di Pekanbaru ini, memutuskan untuk mencari rezeki dengan membuka warung makan di lantai satu rumah mereka.

Rumah Zarima berbentuk kotak persegi. "Saya masih ingat bentuknya yang benar-benar kotak, nggak ada modelnya," Zarima mengenang. Praktis lahan untuk keluarga menjadi berkurang akibat lantai satu rumah 'dimakan' area warung. Lantai dua yang tak seberapa luas, dipakai untuk ruang keluarga dan dua kamar tidur. Satu untuk kedua orang tua Zarima, satu lagi kamar tidur untuk lima bersaudara! Zarima mengenang kamar tidur bersama itu sebagai ajang yang hangat dengan saudara-saudaranya.

"Kalau dilihat bentuknya, benar-benar kayak barak. Tapi, tempat itu amat menyenangkan. Kami berlima mengobrol, bercanda, bermain, belajar, dan bertengkar di situ," kenang Zarima yang bersaudarakan Zulfikar Mirafsur (40 tahun), Zamila Mirafsur (33 tahun), Irma Intan Mirafsur (30 tahun), dan Debby Mirafsur (28 tahun).

Suasana warung yang khas menjadi bagian menarik dalam masa kecil Zarima. Bangun tidur, ia sudah melihat mami dan papinya berkutat di dapur. Pulang sekolah, warung makan di rumahnya dipenuhi orang makan, dan biasanya Zarima buru-buru beranjak ke lantai atas. "Tak ada lahan yang cukup lapang untuk bermain di rumah, kecuali di dalam kamar," tutur Zarima tertawa. Namun, lahan yang sempit tak membuat Zarima dan keempat saudaranya kehilangan keceriaan dunia anak-anak.

"Kami paling gembira kalau disuruh melipat baju masing-masing dan menaruhnya di lemari. Ada seorang pembantu yang menyetrika baju kami, setelah itu beramai-ramai kami melipat baju. Biasanya, lipatan baju membentuk 'gunungan' seperti benteng. Kalau 'benteng' sudah tinggi, kami bersembunyi di baliknya dan main sambit-sambitan," cerita Zarima ceria.

Zarima dan saudara-saudaranya berusaha menikmati apa saja yang ada di sekitar rumah. Maklumlah, Mardiah cukup tegas membatasi anak-anaknya bermain di luar rumah, kecuali untuk urusan sekolah dan berbagai les.

Kebetulan, di depan warung makan orang tua Mardiah, setiap malam ada penjual pempek yang berdagang tetap di situ. "Penjual pempek itu kakak beradik berambut gondrong. Pada saat itu, rasanya mereka berdua seperti cowok terganteng di dunia. Saya naksir setengah mati, padahal masih duduk di sekolah dasar," cerita Zarima. Kalau tidak berusaha 'ngeceng' di depan tukang pempek, Zarima rajin mengintip si duo gondrong itu dari balik jendela kamarnya.

Uniknya, meski makanan di warungnya terbilang enak, Mardiah tak mengizinkan anak-anaknya nongkrong dan mencicipi makanan jualan. Rupanya, ia mendidik kelima anaknya untuk membedakan mana makanan rumah dan mana makanan 'bisnis'. Zarima masih ingat bagaimana ia sampai penasaran dengan rasa telur asin yang dihidangkan di setiap meja.

"Saya melihat teman-teman Mami yang datang ke warung selalu asyik melahap telur asin. Duh, saya sampai ngiler," katanya tersenyum. Suatu kali, karena tak tahan lagi, Zarima mengambil kesempatan saat ibunya beranjak ke lantai atas. Disambarnya dua butir telur asin, disembunyikannya di saku baju, dan buru-buru melesat ke kamarnya. "Di situ saya melahap telur asin dengan gaya asyik seperti teman-teman Mami." Tapi, perilaku itu hanya terjadi sekali. Ketika melihat ibunya menghitung keuntungan hari itu, diam-diam Zarima menyesal. Walau hanya dua butir telur asin, ia sudah mengurangi pendapatan ibunya!

MAMIKU GALAK, MAMIKU SAYANG
Boleh dibilang, didikan Mardiah menjadi 'adonan' penting yang membentuk masa depan Zarima. "Mami sangat galak dan keras," tutur Zarima. "Begitugalaknya, hingga saya dan saudara-saudara saya sering malu kalau Mami sedang marah. Bukannya apa-apa, suaranya bisa menggema sampai ke ujung gang. Wah, kalau Mami marah pas waktunya anak-anak pulang sekolah, sering kali anak-anak sekolah menoleh ke arah rumah saya," ungkap Zarima.

Rupanya, Mardiah bukan galak sembarang galak. Kerja keras membuat wanita ulet ini merasa perlu membuat anak-anaknya serius menekuni sekolah. "Saya tidak mewajibkan mereka membantu saya di warung. Asalkan mereka meng-hargai apa yang sudah saya perjuangkan untuk mereka," kata Mardiah.

Bukan hanya memikirkan sekolah, Mardiah juga amat telaten mengasah bakat anak-anaknya. Sejak Zarima kecil, Mardiah sudah jeli melihat bakat seni putrinya ini. "Zarima gadis kecil yang luwes dan spontan. Suaranya bagus, tidak fals seperti kebanyakan anak-anak lain. Ia juga punya bakat besar dalam menari," kenang Mardiah.

Di tengah kondisi serba pas-pasan, Mardiah menyisihkan pendapatannya untuk memasukkan Zarima ke sanggar seni suara yang cukup kondang saat itu, Bina Vokalia. Tak cukup hanya itu, Mardiah juga mendaftarkan Zarima kursus tari Serimpi dan piano. Masih lekat di benak Zarima bagaimana ibunya dengan gembira membelikannya piano ketika sudah punya cukup uang.
Bahkan, ibunya juga menghubungi Dewi Motik, wanita pengusaha terkemuka yang dikenal luwes dan pakar mengenai kewanitaan. "Mami memohon pada ibu Dewi untuk mengajari saya cara berjalan yang baik," kenang Zarima. Sebuah upaya nekat, apalagi ibunya tak pernah kenal dengan Dewi Motik. Tapi, itulah Mardiah. Kalau sudah punya tekad, ia menyingkirkan rasa malu dan takut.

Boleh dibilang, di antara 5 bersaudara, Zarima paling menonjol bakat seninya. Tapi, Mardiah tak pilih kasih. Saudara-saudara Zarima diberi kursus lain yang mereka kehendaki. "Pendeknya, uang saya waktu itu habis untuk kegiatan anak-anak. Karena kegembiraan mereka adalah kebahagiaan saya," tutur Mardiah yang kini bermukim di Kompleks Bumi Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Tak jauh dari rumah Zarima.

Praktis dengan berbagai kegiatan ini, masa kecil Zarima makin berwarna. Meski sang mami galak, dan ia jarang bisa bermain bebas, hari-harinya tetap menyenangkan. Apalagi ia juga getol mengikuti lomba. Biasanya, maminya menjadi 'manajer' setia. Mardiah yang sibuk mengurus pendaftaran lomba, menyiapkan baju yang pantas, dan menjadi suporter paling bersemangat. Tak sekali dua kali Titi memenangkan lomba menyanyi anak-anak di Jakarta.

"Pokoknya, waktu itu saya sering membawa piala lomba menyanyi ke rumah," ujar Zarima. Bakat itu pula yang digunakannya untuk menghibur ibunya kalau sedang suntuk atau kelelahan di warung makannya. "Mendengar saya menyanyi, Mami biasanya langsung cerah kembali," kenangnya terharu.

Nyaris masa kecilnya bergulir tanpa rintangan. Namun, kenyataan pahit harus dihadapi Zarima saat ia akan menginjak bangku SMP. Beberapa kali ia sempat melihat ibunya menangis di warung, tanpa ia mengertin masalahnya. Zarima mulai melihat ayahnya tak pulang ke rumah beberapa malam. Zarima sempat mempertanyakan hal itu pada saudara-saudaranya, tapi tak muncul jawaban. Tak sedikit pun Mardiah berterus terang kepada anak-anaknya. Selama itu pula Zarima dan saudara-saudaranya hanya bisa bingung mengikuti keadaan.
Sumber: Tabloid Jelita, Periode 24-30 Januari 2005