Sabtu, 16 November 2002

Donnie Sibarani-ADA Band: Mata Gue Indah!


Sabtu, 16 November 2002
Donnie Sibarani-ADA Band
Mata Gue Indah!
Pemuda lajang ini mencuat namanya setelah bergabung dalam sebuah band yang digandrungi anak muda. Suaranya yang khas serta penampilan fisik yang menarik membuat penggemarnya mempunyai kesan mendalam terhadap penampilannya. Bahkan, ada yang menyebutkan tampilnya Donnie Sibarani (20) sebagai vokalis Ada Band membawa warna baru pada grup ini.

Ada Band, adalah sebuah grup band anak muda yang tengah kehilangan vokalisnya, Baim. Namun, hal ini tak membuat surut band yang penggemarnya kebanyakan remaja putri ini. Terlebih setelah posisi Baim digantikan Donnie. Gaya dan penampilan pemuda batak yang berkarakter ini membuat siapa pun yang melihatnya ‘jatuh cinta’. “Mungkin karena mata gue yang membuat orang tersihir…,” ucap Donnie sambil tertawa.

Album pertama bersama Ada Band, Metamorphosis (2002), album terbaru Ada Band, menjadi saksi keseriusan Donnie berkiprah di blantika musik Indonesia. Lagu andalan album ini, Masih (Sahabat Kekasihku), liriknya pun merupakan hasil karya pemuda beralis tebal yang belum lama grupnya ditinggal Rama, sang drummer. Namun, kehilangan salah satu personil tidak membuat Donnie dan tiga orang temannya dalam Ada Band berhenti berkarya. Berikut petikan wawancara dengan pemuda yang lahir di Surabaya pada 17 April 1982 ini.

Mulai suka nyanyi sejak usia berapa?
Sejak kecil, gue udah suka nyanyi. Kira-kira sejak Sekolah Dasar (SD). Gue juga pernah di paduan suara gereja.

Berarti bermusik sudah menjadi bagian dalam keluarga?
Yah, kebetulan aja gue berasal dari keluarga Nasrani dan kebetulan lagi gue orang Batak. Ya tau sendiri lah kalo orang Batak gimana suaranya. Jadi udah mendarah daging ceritanya…he…he…!

Jadi menurut kamu semua orang Batak suaranya bagus?
Ya, pada dasarnya begitu (tersenyum). Jadi memang udah dari keluarga mengalir darah seni. Selain gue, abang gue juga pernah menjadi vokalis. Tapi nggak bertahan lama. Gue lah yang sampe sekarang serius di dunia ini.

Ngomong-ngomong sebelum Ada Band, kamu di grup mana dan mulai nyanyi di band sejak kapan?
Sejak tahun 1998. Gue bergabung dalam sebuah band café di Surabaya. Grup Tof Forty lah!

Bicara tentang Surabaya, sekarang kamu menetap di sana?
Hingga detik ini gue masih tinggal di Surabaya. Karena sampe detik ini juga gue masih kuliah di Universitas Airlangga.

Ambil Fakultas apa?
Fakultas Hukum. Semester kelima.

Sekedar flashback, bagaimana ceritanya bisa bergabung dengan grup ini?
Waktu itu mereka datang ke Surabaya terus ngiba-ngiba he…he…he…. Tapi seriusnya gue tau dari Dudi, vokalisnya Yovie and The Nuno yang merupakan teman gue di Surabaya. Saat itu Dudi memberitahu gue kalo Ada Band sedang butuh vokalis. Terus gue disuruh coba. Selanjutnya gue datang ke Jakarta untuk itu. Dan akhirnya bergabung deh.

Bagaimana rasanya menggantikan Baim, ada masalah tidak?
Sebenernya nggak ada masalah. Malah banyak yang bilang bahwa semakin banyak yang respek ama Ada Band yang baru ini. Ya nggak tahu. Mungkin karena ada dua orang baru yang ganteng-ganteng, terus mungkin karena aura-nya macho aja gitu (tertawa yang juga disambung gelak teman-temannya).

Tapi untuk gaya, apa teman-teman mendikte kamu?
Nggak sih, karena gue sendiri udah tahu bagaimana harus bersikap. Jadi gue memilih untuk jadi diri sendiri. Tapi gue sendiri nggak terlalu mikirin. Let it flow aja. Kalaupun itu digariskan untuk hidup gue, ya biarin mengalir.

Ceritakan suka duka kamu selama bergabung di grup ini?
Kebanyakan sukanya ketimbang dukanya. Mungkin karena gue berada di dunia baru. Boleh dibilang baru karena baru di dunia profesional yang seperti ini. Gue banyak ketemu musisi hebat dan banyak ketemu orang. Pokoknya banyaklah dari berbagai hal. Dari berbagai macam asepk, nah sukanya di situ. Kalo dukanya mungkin kehidupan gue menjadi nggak sebebas seperti dulu.

Seperti apa, apa kamu tidak bisa jalan-jalan lagi?
Oh tetap bisa.

Oh ya, cita-cita kamu sebenarnya ingin jadi apa? Apa memang bercita-cita jadi vokalis?
Sebenernya gue pengen jadi orang kaya. Makanya gue bernyanyi karena dari nyanyi gue bisa jadi orang kaya (tertawa). Tapi mungkin beberapa tahun lagi gue menjadi pengusaha tapi tetep ujung-ujungnya menjadi orang kaya (tertawa lagi).

Jadi, menjadi vokalis bukan cita-cita?
Itu cita-cita juga, tapi mungkin di atas itu semua gue bercita-cita menjadi orang sukses dan orang kaya. Tetapi jaln menuju ke sana kan banyak, gitu!

Mata dan perempuan

Kalau menurutmu bagian mana dari tubuhmu yang paling menarik?
Banyak orang yang komentar hamper seluruh bagian gue itu seksi. Jadi gue bingung juga jawabnya (tertawa). Tapi mungkin perut kali ya (sahut gank Ada Band). Tapi yang paling bikin gemes, selain mata, kata orang gue cubi, jadi bikin gemes orang.

Kata orang mata kamu bagus, menurut kamu bagaimana?
(Tersenyum) Justru sebenernya bukan mata aja. Banyak orang bilang perpaduan lais, mata dan hidung. Jadi katanya merupakan satu konfigurasi aja. Hal ini membuat orang ngeliatnya jadi enak gitu katanya… (tertawa). Jadi meski saat nyanyi gue diam udah bikin orang sejuk (tertawa lagi).

Tapui bagaimana perasaan kamu jika ada orang yang mengatakan hal itu?
(Bercanda) Ya, sebenernya gue udah nggak heran lagi. Paling gue bilang, ya. Anda orang yang kesekian (tertawa).

Jadi menurut kamu mata mampu menaklukkan perempuan?
Iya juga sih.

Artinya saat ini kamu memiliki kekasih?
Sekarang gue sih masih jomblo (tersenyum). Sebenernya hal ini disebabkan karena gue belum mau terikat aja. Gue masih ingin freelance aja. Jadi nggak ada yang tetep (tertawa). Jadi dibuka kesempatan selebar-lebarnya buat yang berminat (tertawa).

Ada cerita menarik nggak tentang mata dan perempuan?
Ehhh… apa ya. Mungkin karena gue punya mata indah, ya akhirnya banyak orang melirik. Terus gue tahulah kalo ada orang yang melirik. Kalo udah demikian gue coba melirik balik, tapi karena lawannya cakep banget, gue jadi nggak lihat ke depan. Ya udah gue jadi ketabrak… (tertawa yang disoraki Ada Band lainnya).

Pacar kamu terakhir, apakah ada yang mengatakan perihal mata?
Ehh… ya! Dia pernah bilang takut melihat mat ague. Nggak tahu kenapa. Terus, kalo berbicara dia takut melihat mata. Mungkin daya serap mat ague tinggi, jadi orang tertunduk malu jika melihat mata gue (tertawa).

Perempuan seperti apa yang menjadi inspirasi dalam hidup kamu?
Ehh… inspirasi? (terdiam) Mungkin perempuat yang smart banget. Dan hitungan smart itu terkadang tanpa batas. Jadi perempuan yang tahu mengenai banyak hal boleh dibilang menjadi inspirasi dalam hidup gue. Dia nggak harus cantik tapi enak aja kalo dilihat.

Macam pintarnya?
Ya, pintar wawasan dan pengetahuannya lah.

Setelah smart apa lagi kriteri perempuan yang bakal kamu taksir?
Apa lagi ya… (berpikir) Tapi yang paling mendasar ya smart itulah.

Biasanya saat menulis lirik tentang perempuan apa yang paling sering kamu tulis?
Ehh… banyak sih sebenernya. Tapi gue nggak terfokus pada satu tema aja. Karena gue boleh dibilang cukup pintar, jadi apa aja bilang gue masukin. Gue nggak hanya menulis tentang jatuh cinta aja, karena itu bisa bikin gue stuck dan berkarya disitu aja. Gue nggak mau kayak gitu. Gue pengen menulis tentang banyak hal.

Target tahun 2003 soal asmara?
Mungkin married sembunyi-sembunyi (tertawa).

Jadi target menikah umur berapa?
Kalo dulu gue bercita-cita pengen menikah sebelum umur 25 tahun. Cuman kalo Tuhan belum berkenan, yang mau bilang apa. Pasrah aja.

Kalau diberi kesempatan menjadi orang lain, ingin menjadi apa dan siapa?
Ehhh… jadi diri gue sendiri. Karena gue udah cukup pus dengan diri gue sendiri.

Di keluarga siapa yang paling dekat dengan kamu, kenapa?
Nyokap! Karena gue salut ama nyokap, dia itu nggak gampang menyerah, tegar, dan gue banyak belajar dari dia. Apapun itu kalo bisa dilakuin ya dilakuin, kata nyokap. Jadi walaupun sakit atau bagaimana, kalo gue mengejar sesuatu hal harus gue kejar sampe dapet karena menurut nyokap nikmat akan kita terima kemudian hari.

Pandangan kamu tentang perempuan Indonesia?
Ehm, perempuan… salut aja sih melihat perempuan sekarang! Banyak hal yang dulu nggak bisa dilakuin mereka sekarang terbuka lebar. Hanya kritikan yang ada sekarang adalah jangan juga terlalu mengumbar, boleh globalisasi tapi harus tetep mengutamakan norma-norma. (maurin/dicky)
Sumber: Tabloid Jelita, Edisi 564 Tahun IV, Periode 16-22 November 2002