Rabu, 28 Agustus 2002

Tarida Gloria


Jumat, 26/7/2002, 00:03 WIB
Solidaritas selebritis untuk Tarida Gloria
Laporan: Ratri Suyani
satunet.com - Solidaritas dan kepedulian para artis terhadap penderitaan yang dialami Tarida Gloria terwujud lewat acara 'Dari Kami Untuk Tarida Gloria' yang berlangsung di Amadeus Café Plaza Semanggi, Jakarta Selatan, Rabu malam (24/7).

Acara yang diprakasai oleh duabelas infotainment TV ini di pandu Eko Patrio dan Tamara Geraldine serta dihadiri oleh puluhan selebritis dan pengusaha terkenal seperti Hotman Paris Hutapea, Kristina, Nita Thalia, Ikke Nurjannah, Novia Ardhana, Agnes Monica, Leony VH, Dina Lorenza, Desy Ratnasari, Titi DJ, Reza Artamevia, Ratu, Itje Trisnawati, Roger Danuarta, Mieke Amalia, Tora Sudhiro, Edi Brokoli, Warna, Kla Project dan lain-lain. Turut hadir pada malam tersebut, Ferdinan Van Lopez, suami Tarida Gloria, Tike Priatnakusumah dan pacarnya Arief Wijaya, Mariam Priatnakusumah, Rita Priatnakusumah dan keluarga Tarida lainnya.

Acara dimulai dengan penayangan video tentang Tarida Gloria. Dalam rekaman video yang ditayangkan, Tarida mengutarakan rasa kagum dan bangganya kepada teman-teman yang peduli terhadap penderitaannya. "Semoga apa yang telah dilakukan teman-teman selama ini di balas oleh Allah SWT," ujar Tarida sambil tersenyum haru.

Menurut Ferdinan Van Lopez, ia mengaku kaget dan terkesan dengan acara ini, "Saya baru tahu acara ini kemarin. Tarida sendiri baru tahu hari ini, ia sangat terkejut dan tidak bisa bilang apa-apa," ujar Ferdinan yang bersyukur dengan terselenggaranya acara ini.

Sedangkan Tike Priatnakusumah, adik kandung Tarida, merasa terharu atas apa yang dilakukan pers. "Saya tidak bisa bilang apa-apa, hanya ucapan terima kasih yang sebesar-besar karena peduli dengan kakak saya," ujar Tike yang ikut menyumbangkan sebuah lagu untuk kakak tercinta.

Perasaan yang sama juga dialami Rita Priatnakusumah, kakak kandung Tarida yang menjadi manajer kedua Reza Artamevia. "Saya sangat berterima kasih atas acara ini," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Dalam acara lelang ini, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea, menjadi orang yang paling dermawan. Hotman mengeluarkan uang Rp65 juta hanya untuk membeli tiga busana milik butik Tarida Gloria berlabel 'Fashionia' yang dilelang. Anehnya, tiga kostum tersebut diberikan dengan cuma-cuma untuk Ikke Nurjanah, Dina Lorenza, dan Mieke Amalia.

Sedangkan Reza Artamevia, memberikan penawaran tertinggi untuk lukisan kaligrafi Al-Quran sebesar Rp15 juta.

Dari acara yang dimeriahkan oleh penampilan grup musik Kla Project, Warna, Dik Doank, Ratu, dan GIGI, terkumpul uang sekitar Rp200 juta yang rencananya akan diberikan kepada Tarida Gloria. Dana tersebut terkumpul selain pelelangan busana karya Fashionia dan lukisan kaligrafi Al Qur'an, juga dari saweran para selebritis. (trm)
Sumber: www.satunet.com, Jumat, 26 Juli 2002

Rabu, 31 Juli 2002
AKSI SIMPATI TARIDA GLORIA
"SAYA TERHARU"  
PENYANYI dan mantan presenter Kroscek (Trans TV), Tarida Gloria (29 tahun), kini terbaring tak berdaya di RS MMC Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Kanker yang tadinya hanya bersarang di rahimnya kini makin menyebar. Tarida sudah sulit menggerakkan tubuhnya. Berat badannya yang makin turun hingga 31 kg membuat tumor di panggulnya makin terasa.

TUMORNYA sempat membesar hingga 15 cm. Tiga bulan lalu, setelah disinar di Singapura, tumor itu menciut hingga 6 cm. Dirawat mulai 5 Juli 2002 lalu, kesehatan Tarida yang sempat drop, membuat tumor itu membengkak lagi sebesar 2 cm. Tapi pada dasarnya tumor tersebut tidak seganas dulu. ''Sekarang yang pasti nafsu makan harus ditambah agar berat badannya meningkat. Setidaknya 10 kilo agar kondisinya dapat membaik,'' jelas Ferdinan Van Lopez, suami Tarida yang dengan setia selalu mendampingi sejak pernikahan mereka pada 21 Oktober 2001 silam. ''Syukur bengkak di kakinya sudah berkurang walaupun masih terasa nyeri,'' tambah Ferdinan.

Bagaimanapun, menurut Ferdinan, kondisi Tarida secara obyektif sudah lumayan. Cuma, tak mungkin untuk mengoperasi kanker yang sudah mencapai stadium 3B. Harus dicari hingga ke akarnya.

Tarida masuk rumah sakit lagi, karena ginjalnya sudah kena hingga harus dioperasi. Penyempitan saluran kencing mengharuskan Tarida dioperasi dan buang air kecil melalui kateter (selang).

Pada Kamis (25/7) petang, di kamar 3301, Tarida terlihat menahan sakit. Pergelangan tangannya dibebani tiga selang infus. Wajahnya pucat pasi. Toh, ia tetap mencoba tersenyum ketika dijenguk teman-teman seangkatannya di SMAN 20 Bandung dan rekannya, artis Cut Tary dan Jihan Fahira.

Untuk menghabiskan waktu selama di rumah sakit, Tarida masih sanggup menonton TV 17 inci di kamarnya. Segala macam majalah dan bacaan lainnya pun dilahapnya. Ia sering ditemani dua keponakan kecilnya.

BERSIMPATI pada penderitaan Tarida, pada Rabu (24/7) malam, duabelas program infotainment Cek & Ricek, Hot Shot, Halo Selebriti, Buletin Sinetron, BeTis, Kabar-kabari, KiSS, Go Show, Insert, OTISTA, Reality, dan Kroscek menggelar acara di Amadeus Café, Plaza Semanggi, Jakarta Selatan. Acara yang diberi tajuk Dari Kami untuk Tarida Gloria ini dihadiri banyak artis, pengusaha, dan insan pers. Dana yang didapatkan dari acara ini disumbangkan kepada Tarida. Koleksi baju butik Tarida, dan aneka kue buatan keluarga Tarida, dilelang. Salah satu baju terjual seharga 40 juta.

Salah seorang pengurus acara itu, Sandra dari Cek & Ricek sempat kaget dengan banyaknya pengunjung. ''Kita membuat acara ini semata-mata karena kepedulian kita terhadap sesama. Nggak ada rencana khusus buat acara ini. Padahal persiapannya hanya lima hari. Undangan kebanyakan hanya lewat telepon secara berantai. Pokoknya nggak nyangkalah!'' seru Sandra di tengah keramaian pengunjung.

Dari hasil penjualan enam pasang baju, kue dan sumbangan, diperoleh dana senilai Rp 217 juta. ''Kita benar-benar nggak ngira akan acara ini. Semua sumbangan benar-benar untuk kesembuhan Teh Tarida. Saya berterima kasih atas nama keluarga besar kami untuk semua yang telah berpartisipasi sehingga acara ini bisa seperti sekarang,'' tandas Tike Priatnakusumah, adik Tarida, yang datang bersama sang pacar, Arief Wijaya.

Tarida menyatakan keterkejutan dan keterharuannya atas simpati rekan-rekan pers dan sesama artis itu. ''Aduh... saya terharu. Amazing (luar biasa)...!'' ujarnya.

Bagaimanapun, tambah Tarida, dia termasuk artis baru yang eksistensinya tak lebih dari dua tahun. Tarida benar-benar terkejut atas segala perhatian tersebut.

Keluarga Tarida baru diberi tahu tentang acara itu dua hari sebelumnya dan ikut sibuk mempersiapkan barang-barang yang hendak dijual. Sebagai rasa terima kasihnya, Tarida dan suami sempat berfoto bersama kanvas yang berisi tanda tangan para simpatisan tersebut. ''Sebetulnya bukan hanya mereka. Para penggemar pun banyak yang memberi bunga ataupun resep-resep obat tradisional. Banyak terima kasih juga buat mereka,'' kata Tarida dengan suara tersendat.

l M Nizar
Sumber: Tabloid Citra, Edisi 643, Periode 2-8 Agustus 2002

Kamis, 08/08/2002 12:10 WIB
Meninggal Pukul 11.15 WIB
Selamat Jalan Tarida Gloria
Yusuf Irawan - detikHot
Jakarta Akhirnya penyanyi Tarida Gloria tak kuasa juga melawan penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Kamis siang ini (8/8/2002) pukul 11.15 WIB, Tarida Gloria dinyatakan telah wafat di RS MMC Kuningan, Karet Kuningan, Setiabudi, Jaksel.

Dalam pernyataan yang diberikan oleh adik Tarida Gloria, Tike Priatnakusumaha pukul 11.33 WIB, kakaknya itu meninggal akibat keganasan kanker leher rahim yang dideritanya. "Kanker bahkan sudah sampai menggerogoti paru-parunya," kata pemeran variety show Extravaganza (Trans TV) ini haru.

Pihak keluarga Tarida Gloria mengaku telah mengihklaskan kepergian anggota keluarganya ini. Sepanjang kondisi Tarida memburuk, hampir seluruh anggota keluarga besar Hartimah Priatnakusumah, ayah Tarida Gloria, telah berdoa memohon berkat dan menuntun kepergian Tarida. Di saat terakhir, ibunda Tarida, Siti Mariam Winata bahkan juga ikut bergabung mendoakan Tarida.

Kondisi Tarida Gloria sendiri yang masuk RS MMC Kuningan sejak tanggal 5 Juli 2002, memang memburuk sejak Selasa (6/8/2002) lalu. Ia mengalami koma sejak Selasa (6/8/2002) sorenya.

Terakhir kali ketika masih sadar, hari Senin (5/8/2002), Tarida sempat berpesan agar saudara-saudaranya tidak mendoakan dirinya melainkan mendoakan suaminya Ferdinan Van Lopez yang setia dan tabah mendampinginya di saat-saat terakhir.

Dengan kepergian Tarida Gloria ini, menurut Tike, pihak keluarga sepakat akan memakamkan Tarida Gloria di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga, Bandung, Jawa Barat. Pemakamannya akan dilakukan hari Jumat (9/8/2002) besok.

Hari ini, jenazah Tarida disemayamkan di rumah duka ke komplek Tebet Utara, Tebet, Jakarta Selatan. Baru besok subuhnya, jenazah Tarida akan diberangkatkan ke Bandung untuk dilepas ke tempat peristirahatan terakhirnya. Selamat jalan Tarida! (tbs)
Sumber: www.detikhot.com, Kamis, 8 Agustus 2002

Kamis, 08/08/2002 14:32 WIB
Musikologi Tarida Gloria
Pub Dilakoni, Soneta Dijalani

Sri Widyati - detikHot
Jakarta Hari ini, Kamis (8/8/2002) penggemar musik Indonesia dirundung duka lantaran kepergian penyanyi juga presenter Tarida Gloria. Sebagai penyanyi, karir Tarida benar-benar dimulai dari bawah. Ia pernah menjadi penyanyi Pub sebelum akhirnya mengorbit di jajaran penyanyi top.

Sejak SD, Tarida Gloria telah tertarik dengan dunia vokal dan sering mengikuti lomba menyanyi. Salah satunya, Tarida yang biasa dipanggil Ida ini mengikuti lomba menyanyi antar SD se-Bandung dan meraih juara pertama. Tarida juga menjuarai berbagai lomba puisi yang diadakan.

Namun, sayangnya sang ayah yang telah wafat dan ia menginjak bangku SMP, Tarida semakin mantap berkiprah di dunia tarik suara. Bahkan pemilik berat 45 kg dan tinggi 157 cm ini menjadikan nyanyi sebagai pilihan profesinya. Tarida benar-benar memulai karir nyanyi dari nol. Ketika itu ia dibayar Rp 100 ribu saat menyanyi pada acara Dies Natalis Universitas Padjadjaran Bandung.

Tarida yang lahir pada tanggal 25 Agustus 1973 ini tak lain adalah kakaknya Tike Priatnakusumah (presenter dan penyiar radio) dan saudara Rita Priatnakusumah (manajer Reza Artamevia), Roy Priatnakusumah (koreografi), dll. Tarida serius menekuni dunia nyanyi dengan menghibur tamu-tamu dengan suara emasnya di pub-pub.

Namun di tahun 1991, Tarida tak lagi bernyanyi di pub karena ia melanjutkan kuliah.

Namun atas desakan keluarganya, Tarida kembali nyanyi di pub. Tarida mulai menjadi penyanyi pub, atas ajakan Pretty, personil Pretty Sister dan bareng Ricky Johannes. Pertama kali tampil di sebuah pub hotel berbintang 5, diakuinya, grogi luar biasa. Di sini Tarida membawakan lagu-lagu Top 41. Sedangkan sebelumnya, Tarida lebih sering menyanyikan lagu-lagu dangdut. Ketika itu, Tarida merasa mulai dari nol lagi.

Selanjutnya, Tarida dikontrak nyanyi oleh Coca Cola selama delapan bulan. Untuk memuluskan karir musiknya, Tarida kemudian pindah ke Jakarta pada tahun 1992.

Karir Tarida semakin menanjak, terutama setelah dianggap mampu menjadi vokalis band Drive One Band dari Surabaya yang dikontrak Pizza Ria, Hotel Hilton Jakarta. Bersama grup band itu kemudian dikontrak di Surabaya untuk manggung selama 8 bulan. Dari sana, ia dikontrak nyanyi di pub and bar O'Reiley's di Grand Hyatt Jakarta untuk happy hours selama 1,5 tahun.

Menyusul kemudian panggung Tavern, pub di hotel Aryaduta selama 2 tahun. Bahkan, di tahun 1993, bersama 8 temannya, tiga di antaranya wanita, membentuk band bernama Front Page. Mereka sempat berkibar dan menjadi grup termahal di ajang panggung pub. Namun sayang karena akhirnya harus bubar.

Di tengah malang melintangnya sebagai penyanyi pub, Tarida juga beberapa kali menjadi penyanyi latar untuk panggung Kla Project, Itje Trisnawati, Elvy Sukaesih, Nike Ardilla, dan Mansyur S. Selain itu, bersama Tuti Priatnakusumah dan Retno Susanti sebagai penyanyi latar untuk album Leo Kristy, Franky Sahilatua, Utha Limakuhuwa sampai Atiek CB.

Setelah grupnya bubar, Tarida menyanyi di Hotel Grand Hyatt, Tavern dan berbagai pub. Selain olah vokal, Tarida juga melatih kelenturan tubuhnya dengan berlatih tari Sunda, tarian yang dia pelajari sejak usia belasan tahun. Orang tuanya sendiri memang penari dan pelantun lagu Sunda.

Selain menyanyi di berbagai panggung hiburan, ia juga ikut mangkal di Cawang, Jakarta Timur, markas kelompok Soneta. Sebelumnya, selama di Surabaya, Tarida juga akrab dengan para personel Grass Dangdut yang kebetulan mereka masih sepupu Elvy Sukaesih.

Ketika nongkrong di Cawang itulah ia diajak oleh pedangdut Rhoma Irama yang kebetulan mencari vokalis untuk bandnya. Lantas Tarida dijadikan vokalis Soneta Band formasi lama. Tarida yang ketika itu menyukai musik Suzie Quatro dan Joan Jett merasa cocok dengan warna musik Soneta Band.

Karirnya mulai terangkat ketika Tarida merilis album pertamanya yang bertajuk "Karma" dengan lagu hits 'Selendang Sutra' (1998) di bawah label Warner Music Indonesia. Proses pembuatan album pertamanya bisa dibilang lama sekali, yaitu sekitar tiga tahun.

Lagu 'Selendang Sutra' itu juga dilengkapi dengan video klip yang apik, sehingga dalam acara yang digelar Video Musik Indonesia (VMI) berhasil menggaet juara terbaik untuk kategori The Best Interpreter 1999-2000. Album ini beredar di Indonesia dan terjual 15 ribu kopi.

Selain menyanyi Tarida juga pernah main sinetron, diantaranya 'Tersayang' (SCTV), 'Jangan Ucapkan Cinta' (RCTI), 'Kemasyhuran' (Trans TV) dan 'Doaku Harapanku' (RCTI). Tarida juga memiliki butik yang bernama Fashionia.

Tentang pribadi, Tarida Gloria selalu makan yang paling banyak dan tubuhnya menjadi gendut sejak kelas 4 SD. Ia juga kerap menggunakan kaca mata trendi dengan berbagai corak, bentuk dan warna. Gaya berkacamatanya sering mengingatkan kita pada penyanyi Amerika, Lisa Loeb. Gaya berkacamata tersebut dimulai semenjak Tarida didaulat untuk menjadi presenter "Kroscek" di Trans TV.

Putri nomor empat dari lima bersaudara pasangan (almarhum) Hartiman Priatnakusumah dan Siti Mariam Winata ini merencakan untuk segera merilis album keduanya. Album tersebut telah direncanakan sejak tahun 1999.

Di tahun 1999, Tarida sudah mengoleksi dua lagu yang bakal dimasukkan pada album keduanya. Salah satu lagu mengangkat kenangannya pada almarhum ayahanda yang rencananya akan diberi judul 'Belenggu Cinta Papa.' Sedang satu lagu lainnya, belum ditentukan judulnya karena masih dalam proses. Di album keduanya ini, Tarida ingin mengetengahkan masalah cinta dan kehidupan keseharian.

Tentang irama musik dalam album kedua itu, Tarida akan mempertahankan warna middle (riang) seperti pada album "Karma." Di album dua tersebut, Tarida juga ingin memasukkan karya sendiri yang dipelajarinya dari Ari Bias, pacarnya sebelum menikah dengan Ferdinan.

Namun semua angan tentang album kedua tersebut buyar lantaran Tarida terkena sakit di tahun 2001. Di tahun itu juga, bulan Oktober 2001, Tarida melangsungkan perkawinannya dalam adat Sunda dengan Ferdinan Van Lopez, pria Bule Lampung keturunan Indo-Belanda-Spanyol-Lampung, setelah Tarida putus hubungan dengan Ari beberapa tahun sebelumnya. Ketika menikah ini, Tarida sudah mengalami sakit dan sedang menunggu hasil diagnosa dokter.

Tarida sempat mengalami dua kali perawatan di General Hospital, Singapura, untuk melakukan penyinaran radioterapi. Rencananya Tarida akan menjalani perawatan yang ketiga kalinya di Singapura namun belum sempat ia keburu dipanggil Tuhan, hari Kamis (8/8/2002), pukul 11.15 WIB.

Selama sakitnya, Tarida tinggal di rumah barunya di kawasan Tebet Utara, Tebet, Jakarta Selatan bareng suami yang setia mendampinginya, Ferdinan. Dan kini tak ada waktu lagi yang tersisa untuk Tarida Gloria. (wid)
Sumber: www.detikhot.com, Kamis, 8 Agustus 2002

Kamis, 08/08/2002 15:00 WIB
Dari Persemayaman Tarida Gloria
Rumah Duka Jadi Arena Temu Fans

Yusuf Irawan - detikHot
Jakarta Suasana berkabung meliputi rumah Tarida Gloria Priatnakusumah di kompleks Tebet Utara, Tebet, Jakarta Selatan saat ini. Sayangnya, suasana duka tersebut bercampur dengan keramaian akibat masyarakat sekitar yang mengerubuti artis yang datang untuk ikut berbela sungkawa. Jumpa fans?

Suasana duka di perumahan Tebet Utara B 14 No. 3 tersebut tertutup oleh riuh rendah suara masyarakat yang ramai mengerumuni artis penyanyi juga bintang sinetron yang berdatangan untuk menyatakan bela sungkawa kepada keluarga artis Tarida Gloria.

Nampak berduyung-duyung artis-artis terkenal seperti Dewi Gita, Reza Artamevia, Agnes Monica, Leony Vitria Hartanti, Desy Ratnasari, Titi DJ, Endang S. Taurina, Rachel Maryam, Sarah Azhari, Indra Birowo, pengacara Hotman Paris Hutapea, Jeffry Waworuntu dan Ruth Sahanaya, Ikke Nurjanah, Tora Sudhiro, Mieke Amalia, Aming, Rina Gunawan, Ulfa Dwiyanti, Komeng, Mpok Atiek, Mpok Nori, Nirin Kumpul, Armand Maulana, Maia Ahmad, Katon Bagaskara dan Ira Wibowo, Indra Safera, Shanty, dan banyak artis lainnya.

Dengan banyaknya artis yang berdatangan tersebut, tak pelak lagi masyarakat sekitar rumah Tarida Gloria berbondong-bondong mengerumuni mereka. Jadilah kejadian itu seperti acara jumpa fans.

Di sisi lain, menurut Roy Priatnakusumah, kakak Tarida Gloria jenazah Tarida akan dimakamkan besok, Jumat (9/8/2002) di pemakaman Sirna Raga, Bandung, Jawa Barat, tempat kelahiran Tarida Gloria. Jenazah akan diberangkatkan dari Jakarta setelah Subuh sekitar pukul 05.00 WIB setelah disembahyangkan di Masjid Nortaniu Bandung.

Jenazah Tarida menjalani proses pemandian, tadi siang pukul 14.15 WIB sepulang dari RS MMC Kuningan, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. (wid)
Sumber: www.detikhot.com, Kamis, 8 Agustus 2002

Jumat, 16 Agustus 2002
AMANAT TARIDA GLORIA, DIUMRAHKAN FERDINAN
SELAMAT JALAN, TARIDA! 
KEPERGIAN Tarida Gloria (29), untuk selama-lamanya, jadi sebentuk melodrama yang memedihkan hati, Kamis pekan lalu. Perjuangan gigih Nita melawan penyakitnya melambangkan katabahan dan ketegaran. Kesetiaan Ferdinan Van Lopez (35), suaminya, yang secara intens mendampingi sejak Tarida jatuh sakit hingga detik-detik penghabisan, melambangkan keagungan dan keindahan cinta. Tragika hidup seorang Tarida yang membawa pergi cinta utuh Ferdinan ini disajikan di dua halaman berikut ini (4 & 5). Selain reportase seputar masa kritis hingga kematian Tarida, tulisan dilengkapi aneka komentar dan kenangan sejumlah anggota keluarga, kerabat dan teman dekatnya. 
 
SETELAH berjuang keras melawan penyakit kanker leher rahim, Tarida akhirnya kembali ke pangkuan Allah SWT untuk selamamya. Tarida meninggal pada Kamis (8/8) pukul 11.10 WIB di RS MMC Kuningan, Jakarta Selatan, di mana dia dirawat inap sejak 5 Juli 2002, sepulang dari pengobatannya di Singapura.

Pada saat-saat terakhirnya Tarida ditemani oleh Ferdinan Van Lopez, suaminya, dua kakaknya, Rita Priatnakusumah dan Roy Priatnakusumah, ibunya, Siti Mariam Winata serta Uwak Ading yang kebetulan hadir menjenguknya. ''Saya pegang tangan kanannya,'' kata Ferdinan dengan tenang dan tabah. Dalam kondisi yang sudah sangat lemah itu Tarida dibimbing oleh Ading dan Ferdinan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. ''Mudah-mudahan Tarida mengikutinya dalam hati,'' jelas Ferdinan lagi.

Kondisi Tarida memang memburuk sejak Selasa (6/8). ''Dokter memperkirakan Tarida hanya akan bisa bertahan selama 12 jam,'' cerita Ferdinan. Semua anggota keluarga Tarida pun berkumpul. Meski kondisinya yang melemah membuatnya hanya bisa berbaring tak bergerak, dia ternyata masih bisa merasakan keadaan sekelilingnya. ''Terlihat dari sinar matanya,'' tambah pria yang menikahi Tarida pada 21 Oktober 2001 ini.

Pada Rabu (7/8) pagi, di Jakarta beredar kabar, Tarida telah meninggal dunia. Pada pagi hari itu pula kamar 3301 RS MMC Kuningan di mana dia dirawat telah ''diserbu'' wartawan dari aneka media. Sejumlah artis, seperti Pinkan Mambo, Marcella Zalianty, Tora Sudhiro, Sarah Azhari, Donny Kesuma dan Purwacaraka yang kebetulan berobat ke sana ikut pula menjenguk Tarida. Malam harinya, kondisi Tarida dinyatakan mulai membaik. ''Malam itu kami mengadakan salat istighosah untuk mendoakan Tarida,'' cerita Roy Priatnakusumah, kakak kedua Tarida. Salat dilanjutkan dengan tahajud bersama.

Pagi harinya, Tarida dimandikan. Kata Ferdinan, kondisi Tarida makin tenang. Pada sekitar pukul 10.00 WIB, kondisinya menurun kembali. Hingga akhirnya, pukul 11.30, Tike Priatnakusumah, adik bungsu Tarida, mengumumkan kepada para wartawan bahwa Tarida telah berpulang.

ATAS permintaan keluarga, jenazah Tarida langsung dibawa ke rumah duka, di Jalan Tebet Utara Barat II, Blok 14 No 3, Tebet Barat, Jakarta Selatan, kediaman Tarida dan Ferdinan. Rumah ini berdekatan dengan rumah kakak Tarida, Drg. Tuti Priatnakusumah. Jenazah Tarida disemayamkan di ruang tamu.

Pada pukul 14.00 WIB, jenazah dimandikan dengan Ibu Nuriani dari Yayasan Bunga Kemboja (YBK) sebagai pemimpin acara. Tarida dimandikan oleh saudara kandung dan iparnya. Di luar, sejumlah artis ikut melayat. Antaranya Desy Ratnasari, Dewi Gita, Ari Tulang, Mpok Nori, Ratu, AB Three dan Reza Artamevia. Pada pukul 14.40 WIB, jenazah dibawa masuk kembali ke ruang duka, dan dilakukan salat jenazah. Reza ikut dalam upacara yang dipimpin oleh Ustad Aziz dari YBK sebagai imam.

Usai salat jenazah, mewakili keluarga, Rully, Ria HD, dan Ray Bachtiar, keluarga besar Nita mengucapkan terima kasih atas simpati dan bantuan berbagai pihak. ''Pesan terakhir Nita, tolong jaga Rully,'' imbuh Ria. Ini dibenarkan Rully. Beberapa hari sebelum kritis, Dewi dan Armand datang untuk membacakan doa. ''Tapi dia malah minta agar mereka mendoakan saya saja, dan menjaga saya,'' kata Rully.

Menjelang sore hari, rombongan pelayat makin banyak. Rekan-rekan Tarida berdatangan silih berganti. Ada Agnes Monica, Leony Vitria Hartanti, Dian Piesesha, Nia Daniaty, Camelia Malik, Tora Sudhiro, Mieke Amalia, Rony Dozer, Monica Oemardi, Eko Patrio, Yana Julio, Rachel Maryam, Edi Brokoli, Shanty, Andre Hehanussa, Trie Utami, Indy Barends, Denny Malik, Mpok Atiek, Mpok Nori, Titiek Puspa, dan lain sebagainya.

Jenazah Tarida, sesuai keputusan keluarga, dimakamkan pada Jumat (9/8) di pemakaman umum Sirnaraga di Bandung dan diberangkatkan seusai salat subuh. Di pemakaman itulah kakek-nenek Nita dimakamkan. Menurut Roy, Tarida ingin dimakamkan di dekat makam ayah-ibunya, di pemakaman Buah Batu. Untuk memenuhi keinginan ini, dalam waktu dekat makam orangtuanya bakal dipindahkan ke Sirnaraga.

Menurut Roy, Tarida memang sangat dekat dengan ayahnya yang meninggal karena stroke pada 1984. ''Tarida pula yang menemani papa pada saat-saat terakhirnya, seperti yang dilakukan oleh Ferdinan sekarang,'' kata Roy lagi.
Selamat jalan, Tarida!

l Nona Fiona, Win Agustin, Amanda Andono
Foto: Nuryanto Eddy P

FERDINAN VAN LOPEZ (SUAMI TARIDA GLORIA)
DUA hari silam, saat Tike dan Arief datang, dia minta supaya doakan saya. ''Jagain Ferdinan!'' Meninggalnya juga bagus, kelihatan sudah pasrah. Saya juga sudah ikhlas melepasnya. Nggak ada firasat. Saya rasa ini yang terbaik untuk Tarida. Kalau memang harus dipanggil, ya kita ikhlaskan. Kalau memang tidak, jangan sampai dia menderita lama.

Saya terakhir bicara dengan Tarida, sekitar dua hari sebelum kondisinya kritis. Hingga saat terakhir, infusnya masih terus dipasang. Hanya oksigen saja yang dia tidak mau. Selama masih bisa bernapas sendiri dia nggak mau pakai. Makannya juga biasa, nggak pakai infus.

Hal terakhir yang diinginkan Tarida, umrah. Insya Allah, saya akan umrahkan secepatnya. Sampai terakhir dia tetap tabah. Dia selalu menyebut-nyebut papa, maka saya simpulkan dia ingin (dimakamkan, Red) dekat papanya. Karenanya makam papanya nanti akan dipindah ke Sirnaraga.

Saya nggak berencana balik ke Belanda, dan ingin tetap di sini. Saya sudah cukup bahagia bersama dia. Saya sendiri ingin selalu dekat dia. Dalam waktu dekat ini ibu saya juga akan datang dari Belanda. Tapi, masih kesulitan dalam masalah mengurus visa.
l Nona Fiona

RITA PRIATNAKUSUMAH (KAKAK SULUNG)

TARIDA itu orang yang kurang memperhatikan kesehatannya sendiri. Dia malas ke dokter, padahal waktu itu dia sudah sakit lever. Dia yakin akan kekuatannya sendiri. Yang pasti, pesannya kepada kami adalah ''tolong jagain Ferdinan'. Rasanya sih memang wajar kalau dia minta begitu. Ferdinan yang menjaga Tarida sebelum nikah sampai sekarang.

Walaupun terbaring terus, Tarida masih selalu mengajak salat berjamaah. Satu keinginan dia, umrah. Dan, insya Allah, Ferdinan akan melaksanakannya untuk dia. Saya belum tahu kapan pastinya.

Waktu kecil Tarida sudah genit, sudah senang jadi desainer. Dia suka mengisi acara tari-tarian yang diadakan di sekolahnya. Dia bikin desain baju dan menciptakan koreografi. Itu merupakan kreativitasnya. Tarida itu lucu, rame dan manja. Kata Tike, anak bungsunya malah Tarida, bukan dia.

l Win Agustin

TUTI PRIATNAKUSUMAH (KAKAK KETIGA)

TIGA hari kita doain Tarida. Semua lima bersaudara kami ada di rumah sakit. Hari pertama, kita semua tidur di situ. Hari meninggalnya, saya dan Tike pulang untuk istirahat. Yang jaga waktu itu Teh Rita dan Ferdinan.

Tarida itu meninggal sangat bening sekali (bersih, Red). Ini merupakan ujian buat Ferdinan. Orang yang lulus ujian itu kayaknya memang dia. Kita memang sedih, tapi sekarang kita lebih sedih lagi kalau lihat Ferdinan. Karena sudah dekat banget. Tarida menganggap saya sebagai ganti papanya, jadi dia paling dekat dengan saya. Memang harus ada salah satu yang lebih dewasa, dan akulah yang selalu membimbing Tarida.

l Win Agustin, Amanda Andono

ROY PRIATNAKUSUMAH (KAKAK KEDUA)

SAYA merasa sangat kehilangan, sebab dia itu masih muda. Tarida itu bandel dan keras kepala. Hubungan Tarida dengan keluarga selama ini baik, karena kami kan selalu kumpul bersama. Tarida itu banyak sekali keinginannya. Dia ngotot pengen jadi penyanyi, dan akhirnya tercapai walaupun cuma satu album dan cuma pas-pasan.

Selama Tarida sakit, kami sudah mencoba berbagai macam pengobatan. Pengobatan alternatif apa pun kami terima asal bisa membantu. Dan kami juga membantu dengan doa tentunya. Keinginan Tarida yang belum terlaksana, yang paling penting sih umrah. Dan, Ferdinan akan melaksanakannya untuk Tarida.

l Win Agustin

TIKE PRIATNAKUSUMAH (ADIK)

PADA Senin (5/8) malam sejak Teh Tarida koma, sebenarnya dokter sudah memperkirakan waktu tinggal 12 jam lagi. Karena terlampaui, jadi kami mengira hanya koma yang lama. Selama itu kami sekeluarga berdoa terus. Malah, pada jam 02.00 (Kamis) pagi saya sempat pulang untuk istirahat dan ganti baju. Kebetulan mama dan Uwak Ading datang dari Bandung. Kita doa bareng. Habis itu udah flatliner.

Pada Jumat (2/8) lalu Teh Tarida masih bisa komunikasi, walaupun lemah. Pada Senin (5/8) malam pesan terakhir Tarida. Katanya, ''Tolong temani doa buat Ferdinan saja, supaya dia jangan ninggalin saya.'' Dari dulu Ferdinan memang kuat dan tegar. Melihat keadaan Tarida sejak Senin (5/8), kami berdoa, minta jalan yang terbaik. Dalam artian kalau memang mau sembuh, sampai bisa ''lari'' lagi. Kalau memang sudah waktunya, ya silakan.

l Win Agustin

TARIDA DALAM KENANGAN

NAMA lengkap penyanyi dan presenter ini Tarida Gloria Rambe Priatnakusumah. Sebetulnya, kariernya sebagai ''artis'' belum lama. Baru sekitar tiga tahunan. Penyanyi yang senang mengenakan baju dan aksesori funky dan full color ini bersama Retno Susanti pernah menjadi backing vocal grup KLA Project. Pada 1998 ia menelurkan album solo perdananya, Karma. Klip video perdananya, Selendang Sutra, unik dengan sistem one take shot (adegan tidak terputus sekali syut). Dengan rambut shaggy dan gayanya menepis-nepiskan jari tangan di wajahnya di klip video itu menjadi ciri khasnya setiap kali manggung.

Lahir dari pasangan mendiang Hartimah Priatnakusumah dan Siti Mariam Winata ini sempat pacaran dengan Ari Bias di medio 1998. Dua tahun kemudian mereka putus. Ia lalu membuka butik berisi pakaian barang-barang bekas para artis di pertengahan 2000 yang diberi nama Fashionia. Acara infotainment di Trans TV, Kroscek, dan sebuah variety show di Indosiar, PESTA, dipercayakan kepadanya sebagai pembawa acara.

Segala kesibukannya terhenti ketika ginjalnya mengalami abses di akhir September 2001. Kakinya yang membengkak mengharuskan mojang yang lahir Bandung, 25 Agustus 1973 ini istirahat total. Dalam keadaan sakit, kekasihnya, Ferdinan Van Lopez menyuntingnya. Pernikahan diselenggarakan sangat sederhana di kontrakan mereka di Tebet Utara, Jakarta Selatan, pada 21 Oktober 2001.

Pemeriksaan intensif menunjukkan, di mulut rahim Tarida bersarang kanker berukuran 15 cm yang membuat ginjalnya sakit dan kakinya membengkak. Sejak Januari 2002 ia menjalani pengobatan selama dua bulan di Singapura. Proses radioterapi membuat nafsu makannya turun walaupun kankernya sempat mengecil. Bobot tubuhnya pun berkurang 10 kg.

Di tengah-tengah sakitnya itu, Tarida sempat muncul di program Impresario New Image RCTI. Ini terjadi pada medio Maret. Didampingi Ferdinan, ia melantunkan September Ceria. Tak sangka, bobotnya makin berkurang hingga 31 kg. Awal Juli ia diopname lagi karena masalah ginjalnya. Tumor di panggulnya pun kian terasa. Bersimpati pada penderitaan Tarida duabelas program tayangan infotainment menggelar acara Dari Kami untuk Tarida Gloria pada 24 Juli 2002 di Amadeus Café, Plaza Semanggi, Jakarta Selatan. Dari acara ini terkumpul sumbangan sebesar Rp 220 juta.

Sayang, kanker yang menggerogoti leher rahimnya tak mau kompromi. Setelah hampir sebulan dirawat di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan, kondisinya kian memburuk. Pada Kamis (8/8) pekan lalu Tarida pun meninggalkan Ferdinan, keluarga, dan kaum haindai taulannya. Untuk selama-lamanya....

l Win Agustin

ARIEF WIJAYA (PACAR TIKE)
PADA hari-hari terakhir, ketika berbaring di rumah sakit, Teh Tarida masih sanggup bicara. Teh Arida, seringkali berpesan kepada saya dan Tike. ''Tolong ya, jika kelak saya tak ada, jaga-jaga suami saya, Ferdinan!'' Suaminya, menurut Teh Tarida, adalah segala-galanya. Ferdinan baik, sangat pengertian, dan tetap setia dalam keberadaan Teh Tarida yang sakit.

Kata Teh Tarida, jika ia kembali sehat, hidupnya untuk berbakti dan menyayangi suami. Seperti berbaktinya Ferdinan dalam merawat dan menunggui Teh Tarida. Sampai hari terakhir, Teh Tarida tak sanggup lagi bicara, yang terdengar kepada kami, ''Tolong jaga Ferdinan, doakan Ferdinan....''

Saya tak paham, apa yang dimaksud oleh Teh Tarida jaga dan doakan Ferdinan. Soalnya suaranya pelan, nyaris tak terdengar.

l Nona Fiona, Win Agustin

JIHAN FAHIRA
AKU sempat menjenguk kemarin (Rabu (7/8)), tapi nggak boleh masuk. Yang boleh cuma keluarga. Pas denger udah meninggal aku langsung ke sini. Kebetulan aku memang sudah kenal banget sama Teh Rita sebelum Teh Tarida buat album.

Sebetulnya aku cocok banget sama Teh Tarida. Walaupun jarak umurku jauh sama dia, tapi kalau ngomongin soal baju dan pernik-pernik yang heboh kita pasti sama. Sealiran. Apa yang dia suka dan pakai aku pasti naksir. Begitu juga sebaliknya. Kita jadi sering saling tukar informasi tentang baju dan aksesori, di mana beli atau bikin-nya. Kalau inget itu jadi sedih deh...
l Amanda Andono

REZA ARTAMEVIA
KAGET juga mendengar Teh Tarida meninggal. Kayaknya nggak percaya. Tapi kalau melihat betapa tegarnya dia dan keluarganya, saya kagum. Terutama suaminya, Ferdinan. Dia tabah dan sabar sekali.

Saya bayangkan betapa sakitnya Teh Tarida. Mungkin memang ini yang terbaik buat Teh Tarida, daripada dia harus menahan penderitaannya selama ini. Saya ikut berduka cita untuk keluarga yang ditinggalkan.

l Amanda Andono

INDY BARENDS

KAMI udah kenal lama banget, sejak tahun 90-an. Karena Tarida di Bandung sementara saya di Bogor, berbeda musik. Apalagi keluarga Tarida juga urusannya seni. Saat itu saya belum jadi presenter, Tarida dan Tike juga belum jadi artis. Sama saya, nggak pernah ada masalah. Hubungan kami selalu baik. Mungkin karena sama-sama orang Sunda, jadi lebih dekat. Dan nggak sebatas hubungan kerja. Kalau saling telepon ceritanya macam-macamlah. Sekitar tujuh-delapan tahun yang lalu, saya, Tarida dan Tuti juga pernah jadi backing vocal Itje Trisnawati.

Terakhir ketemu, waktu Tarida nikah, di sini juga. Melihat keadaan Tarida sewaktu sakit, saya termasuk nggak kuat. Jadi, saya lebih banyak mendoakan. Lagian pada saat itu saya nggak tahu betul kondisinya bagaimana.

l Nona Fiona

MPOK ATIEK

TARIDA itu periang, cecet-coet orangnya dan gampang bergaul. Dia ramah dan semangatnya tinggi. Saya malah belum sempat jenguk ke rumah sakit karena saya masih sibuk ngalor-ngidul. Banyak urusan. Saya memang sudah lama sekali nggak ketemu sama Tarida. Selama dia sakit, kita cuma berhubungan dengan telepon. Cerita bagaimana keadaannya. Kami sekeluarga juga suka kirim sesuatu ke Tarida. Makanya anak-anak dan suami saya kepingin ke sini juga.

Saya kenal Tarida sudah lama, sebelum dia buat album. Kenangan terakhir saya dengan Tarida, waktu syuting acara ulang tahun SCTV empat tahun yang lalu. Karena menunggu lama, kami mengobrol ke sana-kemari sambil cekakak-cekikik. Ferdinan itu suami yang teladan, Manusia langka.

. pien 
Sumber: Tabloid Citra, Edisi 645, Periode 16-22 Agustus 2002